Rabu, 13 September 2017

Book Review : My Grandmother ask Me to Tell You She's Sorry

Judul : My Grandmother Ask Me to Tell You She's Sorry

Penulis : Fredrik Backman
Penerbit : Noura
Tahun : 2016

Sinopsis :

Pernahkah kau merasa ingin pergi dari dunia nyata? Saat kau terasingkan, dan orang-orang di sekitarmu tampak tak memedulikanmu, bahkan seakan membencimu?

Elsa sering merasa demikian. Misalnya, saat teman-teman menghukumnya hanya karena tidak menyukai syal yang dikenakannya. Atau saat Elsa bicara jujur, mereka mencemoohnya. Sangat jelas mereka membenci Elsa. Itu semua karena Elsa berbeda dari anak lainnya.

Elsa pernah bertanya, apakah menjadi berbeda itu salah? Nenek berkata bahwa menjadi berbeda itu bagus, dan teman-temannya saja yang bodoh. Lalu Nenek berkisah tentang dunia yang berisi pahlawan dan makhluk negeri dongeng. Negeri istimewa yang hanya bisa dikunjungi anak-anak istimewa. Semenjak itu, Elsa sering pergi ke negeri dongeng kapan pun dia mau, bersama Nenek tentunya.

Sampai suatu saat, Nenek tak bisa lagi menemani. Nenek harus pergi, sangat jauh, sendiri. Sebagai permintaan terakhir, Nenek mengirim Elsa untuk menjalani sebuah misi. Misi khusus yang hanya sanggup dijalankan oleh Elsa dan kelak bisa mengubah jalan hidup siapa pun yang terlibat di dalamnya.

____________________

Sebenernya tertarik sama Karya Backman karena banyak yang bilang novelnya bagus, rate di goodreads juga bagus, 4,02🌟

Nah, kebiasaanku kalau pengen beli tapi masih bingung beli engga, beli engga, biasanya aku baca dulu sampelnya di google play book atau kindle. Kalau bagus beli kalau enggak ya yaudah bhay.

Jadi buat kalian yang suka bingung beli apa enggak novelnya, coba aja baca dulu sampelnya, teeus liat reviewmya di goodreads biar gak kena zonk (walau kemungkinan tetap ada) kalau dirasa cocok, tinggal kalian beli deh e-book maupun versi cetaknya.

Bisa dibilang buku ini mengandung ekstrak bawang. Sepertiga bagian awal udah langsung dikasih irisan bawang. Membuat kita ingin mengupas satu persatu kisah Elsa, walaupun mata pedih dan tiba-tiba berair.

Kukira sisanya akan di isi dengan petualangan Elsa, ternyata masih ada irisan bawang yang belum selesai di kupas.

Buku ini menceritakan tentang Elsa, gadis unik yang jadi korban bullying di sekolahnya. Penyuka dongeng, nenek dan salah satu penghuni Miamas.

"Itulah mengapa Elsa selalu menyobek pesan-pesan di dalam loker...........Elsa menyobek-nyobek kertas itu hingga kecil-kecil dan tidak bisa dilihat lagi, lalu membuangnya ke berbagai tong sampah di seluruh sekolah. Elsa mengampuni mereka yang menulis pesan-pesan itu karena jika Nenek sampai tahu dia akan memukuli mereka semua sampai mati."

Kutipan di atas adalah salah satu momen berbawang (dan .... Itu bener bener bikin aku terpukul) anak sekecil Elsa sudah mendapat perlakuan buruk di sekolah, menjadi korban keisengan teman-temanya, kadang aku bertanya-tanya kenapa sih orang bisa punya keinginan untuk merundung anak lain?

Sejujurnya kisah Elsa di sekolahnya ini gak asing, kita pasti sering denger, ataupun tahu bahkan mungkin salah satu dari kita merasakan apa yg Elsa rasakan.

Untungnya Elsa memiliki dua pahlawan super, pertama adalah Mum, kedua adalah neneknya.

Nah, disinilah peran nenek begitu kuat diceritakan bahwa nenek seorang pahlawan super, yang menghibur Elsa dengan dongeng dan segala kelakuan uniknya! ❤

Nenek Elsa sering mengajak Elsa pergi berpetualang ke dunia setengah terjaga bernama Miamas

Di Miamas Elsa juga bisa jadi ksatria dan membawa pedang. Nenek Elsa juga sering mengajak Elsa melakukan hal-hal seru.

"Ada sesuatu yang istimewa tentang rumah nenek. Kau tidak akan pernah melupakan bagaimana aromanya."

Sebagai anak yang kehilangan nenek saat masih SD aku ngerasa relate sama Elsa, apalagi waktu kecil aku juga tinggal sama nenek, karena orangtuaku kerja diluar kota.

Aku suka banget cara Nenek Elsa mendongeng. Di Miamas tidak ada batasan, karena kita tidak pernah tahu dari mana asal ataupun akan berakhir dimana di Miamas.

Di Miamas juga kamu tidak akan dipukul hanya karena syal Gryffindormu terlihat jelek di mata teman-temanmu.

Di Miamas salah satu kerajaan setengah terjaga, kamu akan jadi pahlawan. Jika kerajaan di dunia ini di bangun dengan semen, Miamas dibangun spenehunya oleh imajinasi.

"Jika kau tidak bisa menghilangkan hal-hal buruk, kau harus menutupinya dengan kebaikan."

Aku suka banget petualangan Elsa, gimana Beckaman menulis dari sudut pandang anak-anak yang masih lugu. Bagaimana buku ini beecerita dengan begitu hidup, kalian bisa tertawa, tiba-tiba sedih, lalu merasa begitu hangat di bab berikutnya.

Bagaimana Backman mendeskripsikan nenek Elsa yang begitu kuat dan unik dengan segala pola pikirnya. Mengajarkan kita juga jika nanti kita punya anak, kita harus bisa jadi teman, pahlawan, juga orang tua bagi anak kita.

Dan tidak apa-apa menjadi berbeda, kita boleh jadi apapun, kita bisa jadi apapun, yang kita mau.

Bagaimana Elsa menyelesaikan misi-misinya adalah sesuatu yang heartwarming, Nenek betul-betul tahu cara menjadi pahlawan super dan menjaga Elsa.

Happy friyay! 💕💕
This entry was posted in

Rabu, 12 Juli 2017

Biru

 


Dalam ketidak berdayaanku menghalau mu dalam kenangan.

Sebenarnya aku ingin mencintaimu secara sukarela, tanpa memikirkan betapa terlukanya jika terabaikan.

Adakalanya aku memikirkanmu dalam waktu-waktu lenggang, di antara rindu dan merelakan.

Aku ingin banyak menulis puisi, tapi hujan tak kunjung datang. Dulu, katamu kau suka hujan, aku tidak tahu sekarang.

Andai saja kamu mau memberi kesempatan, mungkin jalan-jalan berdua tak jadi persoalan.

Kita akan menghabiskan senja dipinggir pantai, berdua saja, menelusuri jembatan. Menunggui matahari turun, dan senja berlalu.

Ingatkah kamu aku paling suka waktu biru, waktu diantara terang dan gelap?

Kadang saat aku terjebak di jalanan pada waktu itu, aku ingat kamu. Hanya saja, luka tak boleh sering-sering di ingat. Iyakan?

Aku banyak foto-foto waktu biru, sebagiannya kupersembahkan untukmu.
This entry was posted in

Sabtu, 25 Februari 2017

Aku Punya Waktu, Selalu.




Aku punya secangkir kopi dan beberapa camilan.

Kamu boleh bercerita sepanjang kamu mau,

Kamu boleh berbicara tentang apa saja.


Aku punya waktu, untukmu.

Aku menghadiahkanmu waktuku, yang mungkin tak terlihat

berharga dimatamu.


Kamu tau betapa berharganya waktu?

Tak terbeli, walaupun kamu punya uang satu lemari.


Dan aku menghadiahkanmu waktuku? Betapa istimewanya kamu,

bukan? sampai kuhadiahkan sesuatu yang begitu 

berharga.


Coba sebentar saja, duduk di sini, kamu boleh bercerita apa saja,



Kamu boleh bercerita tentang siapa saja, akan kudengar, 

sekalipun tentang kekasihmu. 
This entry was posted in

Jumat, 27 Januari 2017

Mungkin

 


Mungkin,

Mungkin lain kali, atau kali lain dalam suatu hari yang cerah di penghujung Januari, atau bulan depan di saat gerimis masih terus datang.

Kita bertemu di belokan dekat ujung jalan, yang memisahkan kita antara kiri dan kanan.

Atau barang kali, jalan itu sendirilah batas, antara masa lalu dan masa depan.

Perihal rindu dan dendam yang tak mungkin sama-sama tergenggam

Kita adalah dua orang yang tak lagi sepaham.

Pada akhirnya lama-lama kita akan lupa, pernah berbagi bahagia yang sama.

Pada akhirnya waktu tidak menyembuhkan tapi membiasakan.

Pada akhirnya luka walaupun ada bekasnya, mengering juga.

Apa salahnya jadi lupa pernah jatuh cinta?

Toh kini kita bukan lagi siapa-siapa.

This entry was posted in

Senin, 21 November 2016

Di Waktu-waktu Tertentu






Di waktu tertentu. 

Di waktu-waktu tertentu ketika aku melewati belokan atau

 jalanan yang dulu sering kita lalui, aku berharap, sekaligus

tidak, bahwa kamu juga melewatinya. 




Di waktu-waktu tertentu ketika rindu menyerang, aku 

berharap kamu juga sedang melamunkanku di sudut 

ruangan.



Di waktu-waktu tertentu ketika aku tertawa bersama 

temanku, aku berharap kamu tak lagi melintas di kepalaku. 



di waktu-waktu tertentu ketika aku harus menelan dengan

susah payah makanan kesukaanmu, hanya karena aku lupa


makanan tersebut tak lagi bisa kita bagi dua seperti dulu.



dan ada pula waktu dimana aku ingin menenggelamkan 

segala kenangan bersamamu, tapi juga tak ingin lupa 

betapa bahagianya aku, 


dulu.
This entry was posted in

Minggu, 13 November 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Tidak Berbalas



Aku tak sengaja menengelamkan diri dalam tatapan matamu.

Jatuh hati padamu,
Sendirian,

Tapi tak pernah kupikirkan,
Bahwa ternyata jatuh sendirian adalah kesedihan yang tak terbantahkan.

Manakala aku ingin berujar perihal rasa tapi asa tak mampu mencapai kamu.

Ingin kupastikan perasaan hingga tidak ada yang ketinggalan.

Tapi justru kenyataan yang membuat hilang harapan.
This entry was posted in

Senin, 18 April 2016

Kamu Adalah Doa Yang Tidak Dikabulkan Tuhan.

Solo - Dian Silviani

     Tuhan menjawab doa umatnya dengan 3 cara, katanya. Yaitu :

Ya,
Tunggu,
Tidak.
Ada terlalu banyak doa yang sering kupanjatkan dalam sujud tergesah-gesahku. Tapi ada satu doa yang ku panjatkan pada malam-malam hening yang ku sisakan sebagai penebus siang yang memburu.
     Pada malam-malam itu ku selipkan satu nama, satu nama berulang-ulang sampai kukira Tuhan bosan mendengarnya.
   Karena mungkin kamu adalah topik terhangat yang sering ku perbincangkan dengan Tuhan .

     Tapi hari itu Tuhan menjawab doaku dengan, Tidak.

    Hari itu hari dimana aku harus melepasmu walau dulu rasanya aku tak akan mampu.
    Dulu rasanya aku tidak pernah bisa membayangkan hariku tanpamu.
   Dulu rasanya aku tidak akan merasa bahwa senja begitu semenarik sekarang, karena kamu adalah matahari hangat yang jauh lebih bersinar dan menyenangkan.
    Dulu kukira aku akan sangat sulit melupakan kenangan bersamamu.
Tapi hari ini, hari dimana aku berjalan sendirian menyusuri tempat yang pernah kita singgahi tanpa merasa sendiri.

   Mungkin kamu adalah salah satu doa yang tidak dikabulkan, Tuhan.

  Mungkin memang aku diberi waktu sebentar untuk bisa merasakan bahwa setiap doa memang harus selalu sungguh-sungguh dipanjatkan, sekalipun Tuhan menjawabnya dengan, tidak.




This entry was posted in

Senin, 16 November 2015

[Traveling] Semarang - Si Manja yang Nekat

[Traveling] Si Manja yang Nekat




JAKARTA - sejak pergi ke Baluran, ini adalah jalan-jalan yang lumayan agak jauhan, plus jalan-jalan pertama tanpa persiapan, ya sebenernya sih judulnya bukan jalan-jalan tapi minggat dari Jakarta, gitu aja.
           Jadi gini, sebenernya gue sempet melakukan perjanjian, lebih tepatnya di tantang si Claudia buat ngelakuin solo trip, WELL ladies and gentlemen! Claudy udah ngelakuin solo tripnya sendiri ke pantai 2014 lalu, dan dia bilang “lo mesti nyoba solo trip yan suatu hari” Janji itu masih terus gue pegang tapi belum juga gue tepatin, karena ada banyak hal yang membuat gue pengen berhenti sebentar dari rutinitas pergi-pergi jauh.
         Tapi hari itu, dimana hari kenekatan pertama gue. Awalnya janjian sama si Arman kamvret, maafkan atas kekasaran bahasa ini. Pokoknya janjian sama Arman BATAL dan gue nekat beli tiket kereta yang harganya 4 kali lipat dari harga perkiraan. Gue fikir, udah sampe stasiun, udah bawa daypack, udah izin, masa balik lagi cuma karena harga tiket. Dan di sanalah gue malam itu, stasiun pasar senen, sendirian, iya sendirian.

         Udah beli tiket, terus nuker kartu commuter, beli minum, beli jajan, beli tisue, gue duduk aja sendirian kayak anak ilang. Akhirnya ngehubungin Lavi, bahwa gue berangkat ke Semarang malam ini juga. Yup respon dia sama kayak yang lain, kaget. Jelas lah, gimana nggak kaget kalau tiba-tiba temen lo dari antah berantah bilang mau jalan kesana. Emang Semarang kayak ke Detos, ‘gue otw nih, tungguin ya’ hahaha.
         
          Sebenernya gue penakut, penakut banget, takut pergi sendirian, takut duduk sendirian, takut duduk sama orang yang gak dikenal, takut digodain, takut dicopet, takut nyasar, takut naik bus, takut akan banyak hal, makanya gue nggak pernah berani pergi sendiri (kecuali ke tempat yang udah gue kenal), ke tempat-tempat baru atau jauh di Jakarta aja gue hampir selalu dianter, dianterin sama Bapa atau sama....., dua laki-laki itulah yang udah kayak kang ojek, nganter-nganter. Terutama Bapa, setiap kali liputan Mama pasti nyuruh sama Bapa. Tapi kan gue udah gede masa liputan di temenin sama Bapa sih, malu dong .___.“
         Sebagai anak manja, pergi jauh dari rumah adalah hal menakutkan, gue gak sama sekali bangga bilang bahwa gue manja, tapi daripada gue sok-sokan berani kan? Pas kemarin di stasiun hal-hal yang negatif gak muncul, mungkin karena gue terlalu excited sama perjalanan panjang pertama gue sendirian, atau mungkin karena dipikiran gue, toh disana gue bakalan sama temen, nggak sendirian.
        Pas di dalem gerbong kereta, kebetulan keretanya kosong. Jadi ketakutan bakalan duduk sama orang asing nggak mampir-mampir di kepala gue, lega. Gue duduk sendiri. Tapi bete juga nggak ada yang bisa gue ajak ngobrol, serba salah sih. 

        Kali pertama naik kereta jauh, kali pertama pergi jauh sendirian, kali pertama nggak ngatur itinerary. Sebagai mantan anak pariwisata, ngatur itinerary adalah suatu keharusan ketika melakukan perjalanan. Kapan, dimana, kemana, berapa, adalah hal-hal yang harus di persiapkan, tapi gue bahkan cuma bawa baju dua. Nggak ada persiapan apapun, nggak seperti biasanya.

       Dan gara-gara nggak pake persiapan, ternyata temen gue ada di Magelang. Setelah ngatain gue sarap karena gue nekat pergi malem itu juga tanpa alasan yang jelas, dia bela-belain ninggalin kegalauanya dan menyambut gue dengan baik. Tepatnya sampe di videoin pas gue keluar dari stasiun dan di hadang abang-abang kang taksi. Macem artis lagi jalan di red carpet gitulah. Dia disana, nunggu pake helm sambil senyum-senyum. Gue yakin, gue akan menyusahkan orang ini. Semoga dia nggak kapok. 

Selamat datang di SEMARANG, Dian Silviani.