Sabtu, 28 Maret 2026
Selasa, 29 Juli 2025
Merayakan Kehilangan - Seporsi popmie
Di penghujung sore yang tenang, aku duduk berdua bersama temanku, bercengkrama sembari menikmati angin dan senja.
Temanku memesan seporsi popmie pada penjual keliling sedangkan aku memesan nutri sari jeruk sembari menunggu pesanan pangsit kuahku jadi.
Ditengah perbincangan seru tentang kehidupan, aroma popmie menyergapku, tiba-tiba saja ingatan itu muncul tanpa diminta.
Di kepala, kulihat punggung laki-laki sedang menyeduh popmie, katanya, di dalam hidupnya, itu adalah mie cup pertamanya, dia terdengar bahagia, bercerita tentang pengalaman pertama menyeduh mie dalam sebuah cup, praktis serunya.
Aku membuat catatan di dalam kepala, nanti kalau bertemu lagi, akan kuhadiahkan untuknya.
Tiba-tiba kenangan lain menyeruak, tentang memori-memori kecil yang hampir terlupakaan, sawah, cabai, terong, kacang panjang, motor tanpa plat, ember serta topi jerami.
Sapaan hangat juga pertanyaan tentang kabar dan kehidupan. Tentang kota tempat tinggal, tentang studi dan pekerjaan, kadang diselipkan pertanyaan sudah punya pacar belum.
Aku tertegun dan hampir menangis, kenangan itu terasa dekat dan jauh sekaligus.
Janji janji yang belum di tepati tidak bisa lagi di laksanakan, kadung pergi tanpa meninggalkan pesan.
Yang bisa diberikan hanya doa, semoga sampai pada yang dirindukan.
Senin, 31 Maret 2025
Merayakan Kehilangan
di dapur ibu-ibu memasak sambil tertawa, melihat anak gadisnya mencoba mengupas wortel, bapak-bapak sibuk mengotong kardus air minum dan menyapu halaman rumah.
rumah terasa ramai dan sepi pada saat yang bersamaan, beberapa tahun sekali keluarga berkumpul merayakan kehilangan.
Rabu, 27 Maret 2024
Đà Lạt an Eternal Sunshine
Jika cinta pada pandangan pertama adalah sebuah kota, maka itu adalah Đà Lạt. Sebuah yang ditempuh selama 6 jam perjalanan dengan bus malam. Dari Saigon, 4273 km dari Jakarta.
Mungkin karena kami tiba terlalu pagi atau karena Danau Xuân Hương yang tenang dan bersinar
keemasan diterpa sinar matahari. Mungkin karena cuacanya yang dingin? Atau
matahari terbit, seberkas cahaya yang berkilauan di antara pepohonan? Atau
rumah-rumah bergaya Prancis di tengah kota yang sangat jauh dari Paris?
Mungkin jatuh cinta semudah kami turun dari bus dan hanya 2 menit
berjalan kaki ke hotel? Atau staf hotel yang dengan hangat menyambut kami dan
meng-upgrade kamar kami?
Mungkin karena angin sepoi-sepoi yang sejuk, atau sopir taksi yang
tidak bisa berbahasa Inggris tetapi menunggu kami dan membawa kami berkeliling
kota? Atau sopir taksi muda yang bisa berbahasa Inggris dan merekomendasikan
restoran yang akan tutup dalam 15 menit? (Ingat, restoran lain sudah tutup
beberapa jam yang lalu).
Mungkin juga kopi vietnam pertama yang enak dan kue markisa
diskon, atau Go! Dalat yang menguras kantong. Bisa jadi syal hangat yang dibeli
dipinggir jalan seharga 45ribu yang membuat kami tetap hangat di cuaca 14°.
Atau teh persik dari Still Cafe, es teh terbaik di dunia! Yang
membuat jatuh cinta? Ada begitu banyak alasan untuk jatuh cinta dengan kota
ini, dan aku memulainya dari jatuh cinta pada pandangan pertama.♡
Jumat, 15 Maret 2024
[Traveling] Vietnam bagian 3 : Explore Ho Chi Min City (Saigon)
Hollaaaaa, Xin Chao!
Pas awal ke Đà Lạt naik sleeper bus, tidurku nggak
nyenyak karena kebangun-bangun, tapi pas balik ke Ho Chi Min, tidurku nyenyak,
pules bangeeet, efek capek juga kali ya. Pas bangun udah subuh dan dikit lagi
nyampe. Tapi kayaknya memang dimana-mana pagi tuh selalu terasa sepi, syahdu,
magical, yagaksih? Kayak suasananya tuh adem gitu pas sampe Ho Chi Min, padahal
kalua siang ruameeeee banget, berisik.
Setelah sampai di agen bus, kita langsung naik grab car ke apartment. Hari ini
kita bakalan explore Ho Chi Min, jalan-jalan naik bus hop on hop off, ke post
office, ke book street, makan dan jajan-jajan. Tapi mau tidur dan siap siap
dulu sebentar di hotel hehehe, karena ada kesalahan teknis, gatau gimana
salahnya, kamar kita juga di upgrade disini.
Setelah siap-siap kita bakalan sarapan ke Phở
Hòa Pasteur. Salah satu pho yang dapat Michelin star. Oia pho disini
memang kaldu dan isiannya pakai daging sapi. Tapi, ada tapinya, makanan
pendamping kayak, spring roll, vietnamise roll dllnya mengandung babi,
hati-hati aja. Saranku mending makan di Jamilah atau Halal Amin aja di Ben
Thanh market kalau kalian kurang nyaman.
Funfact! aku di Jakarta jarang banget nemu restoran yang jualan babi,
jadi pas di Vietnam ini aku jadi tahu bau masakan atau resto yang jual babi,
baunya menurut aku aneh dan strong banget, dari jauh aja aku udah tahu “oh
resto ini ada jual babi” radarku on sepanjang jalan. hahahhaa, pengalaman yang
cukup seru.
Sehabis sarapan kita jalan kaki ke Saigon Post Office sekitar 20-30 menitan,
tergantung pace jalan kalian, jalannya juga gampang btw, tinggal lurus aja,
kalau udah ketemu atau ngelihat katedral, nyebrang, atau ya pakai maps aja
dijamin nggak bakalan nyasar juga, disepanjang jalan juga banyak kedai kopi,
atau warung jualan, ada Ahn Café juga, bahkan kita sempet lewatin kampus dan sekolahan,
lucu-lucu banget sekolahnya pakai ao dai, orang Vietnam tuh kurus-kurus deh,
makanya cocok-cocok aja itu anak sekolah pakai ao jadi, iri.
Ada jolibee juga, setelah melewati jalanan Pasteur, yes vibesnya kayak lagi di
Bandung. Kita sampe juga di kayak hutan kota, tinggal nyebrang, dari jauh udah
kelihatan tuh Katedral (yang masih dalam perbaikan sampe sekarang) btw ini
batunya sama kayak katedral di Prancis.
Kita duduk duduk sebentar, foto di taman samping katedral, terus belok ke book
street, ah seruuu banget, disini juga ada Highlands, kalau kalian mau sambil
ngopi-ngopi, btw rata-rata bukunya berbahasa Vietnam, tujuanku kesini memang
mau beli buku, aku cari satu buku penulis favoritku buat oleh-oleh.
Penjualnya baik banget sampe nyariin karena stock britt-marienya kosong, terus
aku bilang, gapapa kok kalau kosong aku beli yang lain aja yang penting
Backman, tapi ternyata dicariin, Karena awalnya dia minta aku ikut dia, tapi
aku gamau, lagian takut ngerepotin dan aku udah bilang, gapapa, buku yang lain
aja karena ya memang cuma buat oleh-oleh untuk aku, bukan buat dibaca juga.
Dia ternyata kayaknya minta staff/orang dari toko lain untuk anter stock
britt-marie. Terus lucunyaaaa, pas udah ada britt-marienya dia tanya ke aku
"ini dalam bahasa Vietnam, memang kamu bisa bacanya?" Aku bilang, aku
tentu nggak bisa bacanya, aku cuma pengen beli buat oleh-oleh buat diriku aja.
Hahahah. Terus yaudah deh, bayar. Aku bayar pakai jenius, nggak kena fee ya.
Harganya vnd 132,000 padahal dibelakang bukunya vnd 165,000. Dapet diskon lagi
ehehehe
Persis di sebelah bookstreet ini Saigon Post Office, kantor pos yang masih
berfungsi sampai sekarang, kita bisa beli dan kirim postcard langsung disini.
Bangunanya antik, luas dan terawat, nggak ada serem seremnya atau bau bangunan
tua gitu, bener bener di rawat. Di dalam post office ini juga ada banyak stand,
kaya jewelry, paket tour dan hop on hop off bus. Jadi kita bisa beli tiket di
dalam sini dan naik busnya di depan post office nanti.
Setelah dari Post Office kita jalan ke Vincom Center ngadem dari panasnyaaaaa
Vietnam, sekalian mau tarik uang. Harusnya kita ngadem di apartment cafe ya,
tapi kelupaan awkakwkw, abistu kita ke Ben Thanh market beli oleh-oleh, Oia
ini tips! mending beli di Malaysian street daripada beli di
Ben Thanh market. Mahal. Kecuali kalian bisa dan jago nawar. Tapi kadang suka
bingung mereka suka ngira aku nih orang Malaysia jadi suka jual pake Ringgit,
sedangkan aku nggak ngerti kan. Jadi pusing, bilang 15 kirain 15,000vnd
ternyata 15 rm, berapa pulak 15 rm tuh. pusing lah.
Setelah dari Ben Thanh kita ke post office lagi, buat naik bus hop on hop off
sore soreeee... Ah ini seruuu banget sih, naik bus jalan-jalan lihat sunset,
lihat orang orang berlalu lalang, atau lihat nih orang orang Vietnam pada balik
kerja. People watching, sambil sightseeing muterin Ho Chi Min. Wajib kalian
coba ya! Ternyata on the other side of this city Vitenam nih punya banyak
Gedung-gedung tinggi menjulang kayak di Sudirman, padahal pusatnya yang
district 1 itu bangunanya banyak bangunan kuno.
Ada salah satu daerah pokoknya dipinggir danau, kayaknya next time kalau
aku ke Vietnam aku akan menghabiskan soreku disana, seru banget,
bengong-bengong di danau. Kayaknya itu danau sih. Hahaha.
Pulang sekitar jam 7 atau jam 8an, Dewi memutuskan buat ke market di
depan apartment nyobain bun cha (makan khas vietnam yg dagingnya tentu gabisa
ku makan jadi aku skip) setelah sampai hotel dan beres-beres aku ngide mau ke
Big C sendiri yang ternyata lumayan jaraknya tapi aku tenang karena komute di
Vietnam mirip-mirip di Indo, tinggal pesan grab dan bayar cash aja ehehe. Pesan
grab bolak-balik sekitar 30,000vnd. Tanpa perlu ngomong pokoknya kasih tahu
tujuanya, udah. Aku membawa pulang coklat segambreng, teh-teh serta kopi balik
lagi ke apartment, seru banget night ride sama abang grab di vietnam. Dengan
helm proyek khasnya. Wajib dicobain.
Malam ini di tutup dengan aku yg super worry karena bawa puluhan coklat
buat oleh-oleh awkwkwkw Oia ternyata muat aja kok bagasiku yg 10 kg
itu, malah masih bisa masuk kalau cuma bawa 10kg asal masuknya duluan krn
aku cuma bawa tas aja.
Tips juga ke bandara 4 jam sebelum keberangkatan, soalnya bandara Vietnam
nih imigrasinya penuuuuuuh banget, gacuma pas masuk tapi pas mau keluar
juga. Kalian juga bakalan disuruh copot sepatu pas lewatin mesin X-ray.
Pokoknya jangan mepet atau bye! Ketinggalan kereta.
Plus,
jangan beli makanan fastfood di bandara, HARGANYAAA gile, pakai $ dan berkali-kali lipat, mending bawa bekel dari
luar bandara aja biar aman.
Berhubung flighku sama Rina dan Dewi beda kita pisah dan pergi ke gate
masing-masing, aku naik Scoot jadi transit Singapore dulu, sedangkan Dewi dan Rina
direct naik Vietjet. Di Singapore sebenernya aku punya 6 jam waktu transit tapi
karena sendirian aku males buat keluar imigrasi dan masuk lagi ke dalem, jadi
kuputuskan duduk duduk dekat gateku dan menunggu sampai jadwal flight. BTW,
orang indo nih kalau bawa barang banyaaaak banyaaak banget deh. Kobisa sih, aku
sampe heran bagasi full padahal harusya satu orang satu, tapi ada aja yang bisa
kelolosan bawa sampe 2 besar-besar pulak. Jangan ditiru ya guys, kasihan yang
lain apalagi yg belakangan udah gadapet bagasi. Bete tau.
See u di next postingan yang isinya itin dan costnya ya! Makasih sudah mau baca.
Kamis, 14 Maret 2024
[Traveling] Vietnam bagian 2 : Explore Dalat
Hello, Xin chào!
Day 2
Semalam
sebelum ke Đà Lạt, kita sempetin dulu ke 7
Eleven dekat agen bus, beli roti dan minuman, ternyata kita dapet 2 botol
minuman kemasan 330 mL dari sleeper busnya (lupa, ngapain deh beli minum segala). Kita sampai di Đà Lạt subuh, Đà Lạt sendiri termasuk kota
dataran tinggi, karena itu cuacanya cukup dingin padahal sudah masuk maret.
Kalian jangan lupa bawa jaket yang agak tebal, dan kalau nggak gitu tahan
dingin, bawa sarung tangan juga aja. Oia Đà Lạt sebutannya city of flowers
atau juga eternal sunshine. Tapi emang di Đà Lạt banyaak banget
bunga-bunga, sepanjang jalan aja banyak pohon berbunga yang cantik-catik.
Perjalanan ke Đà Lạt memakan waktu 7
jam, aku di bus
tidur-tidur ayam, alias kebangun-bangun terus, dan pas mau sampe, aku duduk
tepat saat bus berbelok tajam, mual. Đà
Lạt ini
kotanya kayak puncak jadi wajar banget kalau jalannya berkelok-kelok,
dingin, dan banyak pohonnya. Adem.
Pas sampe
di tengah kota, GILA. Danau yang kulihat di internet kalau pagi 10x lebih cantik
dari bayanganku. AKU JATUH CINTA!!!!! Cantik banget ngga bohong, belum pernah lihat
danau sebagus ini seumur hidupku dan ini ditengah kota yang kalian bisa duduk
bengong pagi, siang, sore, malem, lari pagi, jajan dan gratis. SUKA BENGET!
Sesuai namanya eternal sunshine! Ah!
Aku
kayaknya mau menyebut perjalanan kali ini dengan “dibersamai keberuntungan”
tanpa disangka-sangka, hotelku cuma semenit dari pemberhentian bus! turun dari
bus kita langsung disambut hawa dingin Đà
Lạt. Di
belokan sebelum turun menuju hotel, ada highlands coffee, cafe chain terbesar
di Vietnam yang kopinya enak! Saat sampai di
hotel staffnya bilang, dia upgrade kamar kita yang tadinya standard jadi
deluxe, mantap!
Kita
memutuskan untuk tiduran sebentar lalu berangkat ke destinasi pertama, tapi
sebelumnya kita cari sarapan paktis dulu karena udah siang juga, berhubung banh
minya pakai babi, jadilah aku makan roti banh mi coklat dari di warung depan
hotel.
Destinasi
pertama kita adalah Mongoland, Tapi Mongoland penuh banget di weekend jadi kita
skip, dan ternyata driver grab tadi nungguin kita. Jadilah kita ke Chika farm
dianter beliau. Oh, Dewi dan Rina juga cobain sosis babi yang kata mereka enak banget di depan mongoland. Sosis yang dibakar di atas tumpukan batu ini kayaknya emang khas Vietnam deh, buat temen-temen non muslim ataupun yang makan babi, bisa banget cobain yaaa.
Sampai di Chika Farm aku merasa orang Đà
Lạt nih cakep-cakep banget, mereka kalau keluar pada dandan, pakai mantel
bulu, skirt, coat, bahkan anak-anak kecil juga pada didandanin dan cakep-cakep, mata mereka hazel, coklat-coklat terang gitu, udah gitu pada kurus-kurus dan all out. Seneng lihatnya. Chika farm
ini tiket masuknya ada 2, vnd 100,000 dapat air mineral atau vnd 120,000 dapat
minuman dari cafenya.
Di Chika
farm kita cuma duduk dan foto-foto, panas bangeeeet cuacanya ish, beda kayak
ditengah kotanya, lalu Dewi dan Rina naik prosotan, dan kita jalan lagi menuju
Fairytale Land, dengan bapak grab tadi.

Setelah itu
kita balik ke hotel, harusnya sih kita ke Đà Lạt old railway station sama ke
Dien Ahn Jeju, tapi kita terlalu capek, karena diatas tadi panas banget, terus
sorenya kita ngopi di Highlands depan hotel, habistu jalan-jalan sore deh. Đà Lạt ini cantik banget,
jalannya, bangunanya, cafenya. Suka!
Setelah
istirahat dan beres-beres kita memutuskan untuk keluar buat jalan-jalan sore
terus ke danau yang tadi pagi kita lihat, sekitar 10 menit aja jalan dari
hotel. Saat dijalan ini anginya kenceng dan dingin banget woi, terus Rina beli syal, sedangkan Dewi jaket di penjual pinggir jalan gitu, tapi bedanya cuma vnd10,000 sama di night market, jadi kalian gausah ragu kalau beli jajan/souvenir di jalan, harganya nggak di getok kok, di tengah jalan juga banyak toko oleh-oleh, oia
kalau kalian ke Vietnam jangan lupa mampir ke L’angfarm buat beli oleh-oleh
kayak teh, kopi, atau manisan, must try!
Setelah Dewi dan Rina belanja, kita lanjut lagi ke danau, Dewi sama Rina naik bebek-bebekan aku duduk di pinggiran danau karena males ngayuh bebek-bebekan hahaha, jadilah nungguin mereka main, aku moto-moto dikit, ish sayang kali ga muter buat motret. Habis selesai bebek-bebekan kita ke Go! Buat balanja oleh-oleh. Muter-muter di Go! Lalu nyari makan malem, teng deng deng, resto halal di dalat udah tutup jam 9.
Akhirnya kita memutuskan balik dan makan popmie dari
warung depan hotel aja, pas dapet driver, ternyata si driver bisa b.inggris,
AKHIRNYAAA kita tanya-tanya lah doi, dimana kita bisa makan dan rekomendasi
tempat makan dan tempat beli oleh-oleh, suprisingly dia bilang ada satu resto
deket hotel kami yang bisa kita datengin, dia make sure ke petugas restonya
kalau aku gabisa makan yg ada pork, lard, alcholonya pokoknya dia ngomong ke
petugas dalam vietnamese dan ngomong ke kita dalam english, terus kita tukeran
nomor hape, tapi, pihak resto bilang mereka mau tutup jam 10, sedangkan
kita sampe disana udah setengah sepuluh awkwkw, jadilah kita take away
nasi goreng aja. Hahaha
Jadi, malam
ini alhamdulillah kita makan nasi :”)
Day 3
Aku udah bilang kan kalau Đà Lạt ini cantik banget? pas bangun subuh aku buka
jendela, aku jatuh cinta lagi woeeeee, aku terkejuuut ini berasa syuting film,
cantik bangeeet, mau disini lebih lamaaaa, aku suka bangeet, walau mengigil pas
tidur, tapi tetep aja, cakeeeeep bener.
Setelah semua orang pada bangun dan siap. Hari kedua di Đà Lạt kita bakalan ke Still Cafe terus ke Alphine Coaster, makan BBQ dan Naik Cable Car dan ke Night Market.

Di Still Cafe, kita bisa makan
ramen/banh mi buat sarapan terus baru ke Alphine coaster, Still café nih enak
banget kalau misal kalian pagi-pagi terus mau duduk bengong dulu gitu, di
dalem juga ada gelato, cake, teh, pokoknya lengkap kalau mau nongkrong dan makan. Kalau kesana jangan lupa cobain satu-satu kedai
disana ya, terutama COBAIN peach tea, di Still Café, ENAK GILA.
Terus beli oleh-oleh di L.E.M,
store yang jual beberapa merch kayak gantungan kunci, tas, baju, pouch, dompet ala-ala jepang gitu, terus ke L.E.A.N or something aku lupa namanya satu toko pakaian di paling pojok, disana ada baju-baju lucuuuk! Pokoknya betah
banget di Still nih. Karena kita buru-buru kita nggak jadi ke Old Railway
padahal jarak dari Still ke Old Railway ini deket, kayaknya efek lupa dan
kesiangan juga, jadinya langsung ke Alphine Coaster. Kalau kaliam abis dari Still
Cafe jangan lupa mampir ke Đà Lạt old railway ya!
Akhirnya kita ke Alphine coaster the highlight of this trip, sebenernya sih aku takut naik coasternya, tapi pas sampe bawah nagiiiih banget awkwkwkw. Harusnya kita pilih yang long route aja ya. Di Alphine coaster pas sampai bawah kita bisa duduk-duduk santai minum teh, kopi, coklat, atau ya simply bengong aja, lalu lihat air terjun alias curug, tapi gabisa berendam ya, nggak kayak di puncak ehehehe. Seru banget pokoknya kalian wajib kesini ya!

Setelah naik alphine coaster kita makan siang, bbqan . Jujur kayaknya udah kelaperan deh sampe aku nggak ambil foto suasana tempat bbqnya padahal tempatnya cakep banget dan makanannya enak, harganya juga masih masuk akal banget tempat bbqnya di persis di sebrang cable car jadi kalau kalian mau naik cable car, mending makannya di tempat bbq ini aja.
Kupikir kayaknya seru sih ini kalau Bedugul ada cable car kayak gini, oke banget, mirip-mirip lah
suasananya kayak di Bedugul, ada danau juga deket ujung cable carnya. Pasti bagus banget kalau di bedugul ada cable car viewnya danau tamblingan dll itu.

Ini sepengelihatanku ya, tempat wisata di Đà Lạt nih rapih, bersih, tertata banget, sama kok kita juga kalau turun dari cable car, alphine, harus melalui toko souvenir, tapi kita bebas lihat keluar masuk nggak ada yang nawarin atau maksa beli, dan nggak ada juga tuh orang jualan diluar tempat wisatanya. Jadi kita bisa window shopping tahu-tahu khilaf aja. Tertata banget. Sukak!
Experience ini jelas beda sih pas aku ke night market, pas aku foto dagangan ibu-ibu dia kayak gesture ngusir gitu padahal kita niatnya mau beli kaos kaki, atau di lapak penjual sayur agak membentak karena aku foto-fotoin cabenya, namanya turis, tapi emg kayaknya mereka kurang welcome. Aku jelas turis karena aku pakai kerudung. Jadi hati-hati ya kalau di night market.
Setelah naik cable car, kita balik ke hotel, siap-siap siap packing karena kita bakalan pindah ke ho chi min lagi. Berhubung bus kita masih tengah malem, aku sama Rina menyempatkan diri ke night market, dan aku cuma beli jaket, yang ujungnya buat adikku. Di night market aku nyobain kem bo, itu ice cream alpukat khas Vietnam, makan eskrim di suhu dingin memang memacu adrenalin hahaha. Ada juga rujak strobery, aku nyari strobery yang gede-gede kayak di video orang-orang tapi kok nggak ketemu, mungkin ada di pasar sebaliknya karena ini night market gede banget, di depan sampe balakang kebanyakan jual baju-baju hangat, jaket, dan syal, karena memang dingin.
Pokoknya Rina puas belanja kita balik ke hotel dan packing lagi, terus nunggu bus di depan highlands, dengan angin dingiiiiiin. Hari ini kita akan tidur di sleeper bus lagi, see you besok pagiiiii.♡
Rabu, 13 Maret 2024
[Traveling] Vietnam Bagian 1 : Memulai Perjalanan
Hello! Xin chào!
PERSIAPAN!
Akhirnya aku punya keinginan untuk nulis perjalanan kali ini. Sejujurnya ini
adalah perjalanan implusif (kayaknya aku memang sering implusif). Aku beli
tiket ke Vietnam di Oktober, dan tiket balik di November 2023.
Waktu itu harga tiket ke Vietnam sedang promo di Scoot, jadilah aku mengajak beberapa temanku, pada akhirnya yang jadi hanya Dewi dan Rina. Kami berangkat dari kota berbeda, kita akan ketemu (transit) di Singapore sebelum ke Ho Chi Min. Persiapan kami cukup matang, itulah kenapa kayaknya kami cukup leluasa kesana-kesini karena sudah banyak searching sebelumnya. Beberapa tips persiapan kalau traveling bareng :
Pertama, buat tabungan untuk uang kas, yang dari tabungan itu kalian bisa bayar hotel, transport, tiket wisata dan makan bareng. Karena, kadang nominalnya ganjil, kalau kalian punya uang bersama itu akan lebih mudah untuk di bagi. Kami menabung sekitar Rp.1.650.000 + vnd 162,000. Sebagain besarnya kami tukar ke VND. (Masih sisa Rp.40,000 + vnd 10,000).
Kedua, tuker VND di Indonesia, money changer yang menurut aku worth it di Jakarta :
1. Smartdeals (dia ada websitenya jadi kalian bisa lihat berapa nilai tukar mata uangnya) di web nilai tukarnya 1 Rp = vnd 0,67 tapi dia hanya buka weekdays, aku kerja jadi gabisa tukar ke sana.
2. Captain Money Changer (nilai tukarnya oke banget) nilai tukar 1 Rp
= 0,68 vnd, bisa chat/telpon dulu untuk dela rate baru kesana bayar, tunai ya.
3. Jenius : ratenya lebih oke dari BCA, tapi aku gabisa narik uang
gatau kenapa pinku salah, dan kena charge 5000/gagal narik, meh~ (rate sekitar
vnd 0,65-0,66)
4. Bawa kartu BCA (krn BCA adalah penyelamat, dia bisa dipakai di
atm, narik uang, juga aku pakai pas naik bus hop on hop off. Tapi ratenyaaa
tinggi 0,72
5. Bawa uang dollar, kalian bisa tukar dollar kalian disana 1$ = vnd
24,000an
Pokoknya kalau kalian dapat nilai tukar lebih dari vnd 0,7 mending kalian tarik atm aja disana. Rina pakai atm BCA untuk ambil uang, dan ada fee sebesar 20,000. Sedangkan aku ada fee 5000 saat pakai untuk bayar hop on hop off bus. Dan ratenya fluktiatif banget. Kalian juga bisa bawa cc atau kartu debit yang ada logo visa/mastercardnya ya.
Ketiga, ini bisa kalian tanyain atau bisa kalian kenali saat kalian menentukan itinerary saat bareng temen yang kalian ajak, cari temen jalan itu sama kayak cari kopi, cocok-cocokan, pastikan kalian adalah orang yang adjustable, soalnya kalau kalian gabisa adjust sama temen jalan kalian, kelar. Bukannya jalan-jalan yang ada malah bete seharian. Tanya dia lebih suka traveling yg luxury atau on budget, kudu fix sama schedule atau bisa flexible, lebih suka naik grab atau sewa motor, harus sarapan atau bisa brunch aja, bangun pagi atau tidur pagi, lebih suka tidur di hotel atau hostel, belum lagi soal makan terutama yang muslim, kalau belanja buat oleh-oleh mau spend time lebih banyak atau beli seadanya aja gapapa.
Pokoknya make sure temen jalan kamu
sealiran, atau pastikan kamu dan dia orangnya bisa adjusting. Kalau kamu
gabisa ngubah temen jalanmu, ubah mindest kamu biar kalian tetep bisa menikmati
the rest of the trip. Terus jangan suka banding-bandingin temen jalanmu sama
temenmu yang lain, bandinginnya after trip aja dan bukan di depan orangnya.
Atau better kamu pergi sama temenmu yang lain kalau emang kepribadian kalian nggak klik. Okay?
Day 1
Ini adalah perjalanan pertamaku keluar negri, degdegan tentu. Tapi, bismillah. Perjalan kali ini dimulai hari Jumat, 08/03, aku berangkat dari Jakarta menuju Singapore jam 11.20 sedangkan Rina dan Dewi seharusnya jam 10, tapi pesawat mereka cancel, dan diganti ke SQ (nggak tahu ini sebuah kesialan atau malah keberuntungan, aku pikir yang terakhir). Jadi mereka akan berangkat dari Denpasar jam 12, mepet sekali, karena penerbangan lanjutan kami jam 3 sore dari Singapore ke Ho Chi Min.Setelah tragedi lari-lari di terminal 1, mereka sampai di gate (gate paling ujung pula), dengan tepat waktu. Fyuuuuh.
Hari
itu Singapore diguyur hujan yang cukup deras, pesawat antri di runway, delay
lah 1 jam stuck di runway, saat hujan reda satu persatu pesawat berangkat, tapi
awan dilangit memang cukup tebal, beberapa kali kami mengalami turbulensi. Tapi
we finally arrive at Tân Sơn Nhất
International Airport safelyyyyy! Kaget banget, ketika memasuki pintu
keluar, imigrasi PENUH! Benar-benar penuh banget-banget, padahal ada belasan
loket imigrasi berjejer tapi antrian tetap mengular panjang.
Jujur ini karena aku terlalu nyantai, aku lupa keluar dari bandara harus tunggu di mana awkwkw, ada tanda bus stop ke kanan, tapi pas celingak-celinguk nggak ada juga tuh halte bus atau tanda pemberhentian bus gitu, akhirnya kita lihat-lihat grab, saat lagi lihat grab ada bus 152 datang, aku bilang, ayo kita naik itu, padahal aku gatau naik bus itu turun di mana, aku cuma inget bus itu bisa bawa kita ke kota hahaha.
Kami waktu itu beruntung nggak lama menemukan bus 152 dan naik! Saat naik kondektur bus akan berkeliling menarik ongkos ke penumpang, dan tentu dia tidak bisa berbahasa inggris, dia akan menunjukan sejumlah uang, uang itulah yang harus kita bayar ke dia. Kami ber-3 dengan 2 koper, jadilah kami membayar vnd 25,000, vnd 5,000 untuk perorang dan vnd 5,000 lainnya untuk koper, backpack tidak dihitung.

Tujuan kita adalah ke District 1 mau makan
di apartment café dan duduk duduk di city hall, tapi yang penting kita makan
deh, karena udah sekitar jam setengah 8 juga, dan ternyata apartment café itu
beda jalur sama bus ini, terus ada turis juga dari Indonesia 2 mas-mas yang
tadinya mau makan di food court tapi malah bablas ke Ben Thanh market, jadilah
kita turun juga, karena kita agak familiar dengan Ben Thanh Market.
Oia,
ada 3 pilihan bus yang bisa bawa keluar dari airport untuk ke Tengah kota, ini
pilihannya :
1.
Bus 152 - VND 5.000/person/luggage
2.
Bus 109 - VND 12.000/person
3. Shuttle Bus 49 - VND 40.000/person
Buat temen-temen muslim, turun di Ben Thanh Matket atau Chợ Bến Thành ini oke banget, karena kalian bisa dengan mudah nemuin makanan halal, jadi setelah turun dari halte, kalian nyebrang terus ke kiri, jalan aja sampe ketemu alun-alun, nah di kanan itu udah keliatan gapura/pintu masuk pasarnya, ada tulisan gede Chợ Bến Thành. Sampe depan Chợ Bến Thành, ke sisi kiri lalu belok kanan, sampe ketemu tembok tulisan Cửa Tây nyebrang, nanti ketemu jalanan isinyaa makanan halal, mostly resto Malaysia. Tinggal capcipcup mau makan dimana. Kita makan Phở di Halal Amin Phở Muslim. Kuahnya seger banget, Cuma kayaknya daun-daunya terlalu wangi untuk lidahku, Cuma kalau gapake daun, ini enaaaak bgt. Akhirnya bisa makan Phở di negaranya langsung.
Setelah makan Pho kami sempat keliling dari ujung ke ujung jalan untuk sekadar cuci mata, btw ini tips juga, JANGAN BELI OLEH-OLEH DI BEN THAN MARKET kalau kalian gabisa nawar!
Di luar harga untuk gantungan kunci vnd 30,000 di Ben Thanh Market gantungan kunci yang sama dihargai vnd 200,000, di ruko fixed price (ruko paling depan ben than market) harganya aku lupa sekitar vnd 40,000 atau vnd 45,000.
Jadi lebih baik beli souvenirnya di jalanan sini aja, lebih murah. Karena saya juga gabisa nawar sih hehehe tapi tetep aja, 200,000 men.
Setelah selesai makan dan window shopping
kita ke agen bus Trọng Minh di
district 5. Kita akan pindah kota, yaitu ke Đà Lạt. District 1 nih hidup banget,
malem-malem juga masih rame, pas ke district 5 sekitar jam 10-an udah pada mulai
sepi, resto disini rata-rata tutup paling lama jam 10. Ternyata di sepanjang
jalan ini banyak banget tempat agen bus, dari Futa, Thành Bưởi, Trọng Minh dll, aku
rekomendasiin 2 agen ini, Thành Bưởi
dan Trọng Minh, karena busnya oke banget. (aku searching soal bus
ini 2 bulan dan tanya sana-sini).

1.
Thành Bưởi – Vnd 440,000 : fasilitasnya
oke, tapi dia nggak bisa di book oline, harus dating langsung ke agenya, bisa
milih seat langsung (tergantung availabenya).
2. Trọng Minh – Vnd 420,000 : bisa di book di Redbus,
dan Red Bus Vietnam itu super helpful. Mereka pakai English dan kita bisa tanya
kira-kira di mana turun naik busnya, plus bisa ganti juga turun naik bus kalau
salah book pas di redbusnya (krn slamat di redbus pakai Vietnamese). Oia
sebenernya bus ini bisa di isi 2 org dalam 1 seat ya, tapi aku gatau gimana
caranya, lagian enakan sendiri sih, kalau di rupiahin sekitar Rp280.000
perjalanannya akan memakan waktu 7-8 jam.
Oia, ke Đà Lạt ini bisa juga pakai pesawat, tapi kita kelamaan beli tiketnya jadi harganya mahal, padahal gajauh beda harga pesawat sama bus, TAPI, nggak enaknya naik pesawat, dari bandara ke tengah kotanya JAUH banget. Biaya grabnya lumayan juga. Jadi ngeluarin lebih banyak uang. Tapi tentu kalian jadi lebih cepet sampe dan bisa ngabisinin waktu lebih banyak disini, kalian bisa pilih-pilih masuk ke budget kalian nggak naik pesawat+ongkos ke kotanya, kebetulan kalau aku hotelnya gajauh dari pemberhentian bus, bener-bener di depan banget. Gaperlu lagi naik grab untuk ke hotel. Lumayan nginep di bus, irit biaya hotel ehehehe.
Malam ini kita tidur di bus, sampai jumpa jumpa di Đà Laaaaạt everyoneee!
Senin, 17 Oktober 2022
Anak-anak yang di kecualikan
Kenapa harus aku?
Kenapa harus aku?
Aku memeluk diriku sendiri, karena mereka sibuk saling memeluk satu sama lain, sedangkan aku dikecualikan.
Katanya aku kuat dan hebat, aku bisa menahannya sendirian.
Mereka lupa aku juga manusia dan lemah.
Mereka lupa aku juga ingin dipeluk dan diperhatikan.
Mereka lupa aku juga ingin hal yang sama.
Aku ingin jadi yang paling disayang,





.jpeg)

