Rabu, 27 Maret 2024

Đà Lạt an Eternal Sunshine

 Jika cinta pada pandangan pertama adalah sebuah kota, maka itu adalah Đà Lạt. Sebuah yang ditempuh selama 6 jam perjalanan dengan bus malam. Dari Saigon, 4273 km dari Jakarta.

 

Mungkin karena kami tiba terlalu pagi atau karena Danau Xuân Hương yang tenang dan bersinar keemasan diterpa sinar matahari. Mungkin karena cuacanya yang dingin? Atau matahari terbit, seberkas cahaya yang berkilauan di antara pepohonan? Atau rumah-rumah bergaya Prancis di tengah kota yang sangat jauh dari Paris?

 

Mungkin jatuh cinta semudah kami turun dari bus dan hanya 2 menit berjalan kaki ke hotel? Atau staf hotel yang dengan hangat menyambut kami dan meng-upgrade kamar kami?

 

Mungkin karena angin sepoi-sepoi yang sejuk, atau sopir taksi yang tidak bisa berbahasa Inggris tetapi menunggu kami dan membawa kami berkeliling kota? Atau sopir taksi muda yang bisa berbahasa Inggris dan merekomendasikan restoran yang akan tutup dalam 15 menit? (Ingat, restoran lain sudah tutup beberapa jam yang lalu).

 

Mungkin juga kopi vietnam pertama yang enak dan kue markisa diskon, atau Go! Dalat yang menguras kantong. Bisa jadi syal hangat yang dibeli dipinggir jalan seharga 45ribu yang membuat kami tetap hangat di cuaca 14°.

 

Atau teh persik dari Still Cafe, es teh terbaik di dunia! Yang membuat jatuh cinta? Ada begitu banyak alasan untuk jatuh cinta dengan kota ini, dan aku memulainya dari jatuh cinta pada pandangan pertama.

0 comments:

Posting Komentar