Senin, 24 Juni 2019

[Traveling] Karimun Jawa - Hari Ke 1


         Halo, lama tidak menyapa!

         Sebelumnya saya ingin memperkenalkan dulu teman-teman ngebolang kali ini, ada Ella dan Esti, mereka berdua teman sekolah dari Solo. Berhubung saya dari Jakarta, kami putuskan untuk bertemu di Semarang. Setelah sepakat untuk bertemu jam 7 malam di poll travel Kencana Semarang dan Ella dan Esti datang (terima kasih Nur dan Icak tanpa kalian apalah aku di Semarang sendirian)  kami membeli bekal makan untuk malam, nasi padang (iya nasi padang untuk supper (?) coba bayangkan tengah malam makan nasi padang, gimana mau kurus.

       Perjalanan dari Semarang ke pelabuhan Jepara ternyata hanya memakan waktu dua jam saja, jadi kami tiba di pelabuhan sekitar jam 9 malam. Padahal loket kapal Feri Siginjai dibuka jam lima pagi. Malam masih panjang. Kami putuskan untuk makan malam di emperan depan sekertariat pelabuhan sebelum masuk ke area tunggu dekat loket.

        Malam ini ramai, mungkin karena masih suasana mudik jadi masih banyak keluarga yang bolak-balik Jepara-Karimun ataupun sebaliknya. Beruntunglah suasana pelabuhan ramai, karena Ella bilang, dulu saat dia kesini, pelabuhan dalam keadaan gelap gulita dan sepi.

      Oia, kami hari ini rencananya akan menginap di loket pelabuhan karena harus mengantre untuk membeli tiket kapal Siginjai jam 5 pagi nanti. Tiket Express Bahari atau kapal cepat sudah habis terjual jauh-jauh hari karena dapat dipesan secara online sedangkan tiket Feri Siginjai dapat dibeli langsung pada hari itu.

       Tapi untuk kalian yang khawatir menginap di pelabuhan, bisa kok tanya sama driver travel atau warga sekitar, homestay yang murah untuk semalam. Dan pagi-pagi kalian bisa langsung ikut mengantre. Malam ini kami tidur di kursi-kursi dekat perpustakan pelabuhan, untungnya di dalam ruang tunggu ini hangat walau ada nyamuk sih, tapi beruntunglah kami tidak harus menginap di luar yang pasti anginnya akan dingin sekali.

       Kami berusaha tidur sebisa mungkin tapi jam tiga pagi saja, orang-orang dan calo mulai sibuk mengantre, jadilah Ella mengantre tiket bersama para penumpang lain. Padahal loket masih dibuka dua jam lagi! Setelah selesai mengantre tiket dan sholat kami berjalan menuju kapal, yang bodohnya kami salah jalan hahaha, harusnya kami keluar dari area loket, kami malah masuk ke area kapal express.

       Ternyata saat kami masuk, suasana kapal sudah lumayan penuh, kami memilih duduk di lantai dua kapal. Sebenarnya banyak kursi kursi yang masih kosong, tapi karena kursi itu dijadikan hak milik oleh sebagian penumpang, akhirnya penumpang lain yang tidak kebagian duduk mengelar tikar di area jalan kanan-kiri, kapal berangkat pukul 07.00 pagi.

         Entah kenapa ya kayaknya dimana-mana tuh memang susah banget untuk tertib. Tadi pagi saat mengantre, Ella di selak 2 ibu-ibu dan satu bapak-bapak yang entah datang dari mana. Masalahnya kami saja bela-belain tidur disini dan mengantre, dia entah datang darimana tiba-tiba masuk ke antrean! Kalaupun dia tidur di sini juga kan dia harusnya mengerti, semua orang juga lelah dan ingin cepat dapat tiket kan? Duh! Lalu lihat suasana kapal, satu orang niat sekali menguasai lima kursi untuk dia tidur. Kalian kan ya bayarnya satu loh, kasihan yang harus duduk di lantai, selain kasihan kan juga mengganggu jalan. Tapi yah ditegur malah dia yang lebih galak. Benar kan? Capek deh!

         Oia, jangan lupa sarapan dan minum obat ya, karena selain kesal melihat tingkah orang-orang, kesehatan kalian juga perlu di jaga. Jadi, pastikan kalian sudah sarapan secukupnya dan minum obat agar tidak mabuk laut. Karena perjalanan menggunakan Siginjai ini harus ditempuh dalam 5 jam dengan kondisi arus yang saat itu lumayan kencang. Jadi lebih baik tidur agar tidak terlalu terasa guncangannya. Naik express pun lebih terasa lagi guncanganya, jadi persiapkan diri dan fisikmu secara baik baik ya, jangan sampai kamu kelelahan duluan sebelum sampai Karimun.


        Saat di kapal saya berkenalan dengan ibu-ibu yang duduk di samping saya, beliau juga dari Jakarta rupanya. Beliau banyak bercerita dari mulai geng ngajinya yang suka jalan-jalan sampai masa-sama beliau kuliah. Dia ternyata ke Karimun bertiga, bersama Suami dan anaknya. Go show. Belum booking penginapan dan tour lautnya. Atau mungkin anaknya yang urus. Oia, namanya bu Iin. Dan ketika si bapak datang, saya jadi ingat, ini kan bapak yang tidur di sebelah kami waktu kami makan nasi padang semalam.

       Setelah terombang-ambing di lautan selama kurang lebih 5 jam, kami akhirnya sampai juga di Karimun Jawa yang PADAT SEKALI. Saya pun pamitan ke keluarga bu Iin, lalu kami berpisah. Jalanan di pelabuhan Karimun macet karena banyak mobil-mobil yang akan masuk dan keluar kapal, belum lagi gerombolan manusia yang menunggu dijemput atau menanti kendaran sewaan.

        Dulu, kata Ella, jalan Karimun masih sepi dengan mobil, hanya ada sepeda motor saja. Lagipula jalanan Karimun Jawa itu kecil, kayaknya buat teman-teman yang mau menyebrang bawa mobil sebaiknya di urungkan saja niatnya, atau kalau sekeluarga mending sewa mobilnya disana saja, karena mobil jika dibawa menyebrang tarifnya sekitar 800rb sekali jalan, belum penumpangnya.

      Suasana ramai dan panas Karimun Jawa menyambut kami dengan sukacita, ah lega rasanya. Karena masih agak pusing saya membeli es kopi depan 'rumah besar.' ternyata harganya 3rb saja euy! Bahkan murah ini daripada di warteg Jakarta eheheh. Eh eh eh, ketemu lagi sama bu Iin yang sedang meneduh dibawah pohon. Beliau cerita akhirnya anaknya sudah ikut tour laut tapi masih cari penginapan yang kosong. Berpisahlah kami dengan bu Iin karena motor sewaan kami sudah datang. Yeay! Welcome to Karimun Jawa.

      Setelah mendapat motor dari Mas Pluwek, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Bunga Jabe. Peringatan untuk kalian semua ketika melihat tukang bensin, segera belilah bensin karena bensin disini langka sekali! Kami nyaris kehabisan bensin, untungnya kami menemukanya setelah nyaris sepuluh menit keliling-keliling.

     Selain bertemu bensin, kami juga bertemu dengan bapak pemilik penginapan 'Homestay Pantura'. Homestay si bapak ini persis dibelakang rumah nenek penjual bensin. Saya lupa nama si bapak karena beliau meminta saya menyimpan nomornya dengan nama Homestay Pantura. Untuk kalian yang ingin menginap di tempat yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan tapi dekat pantai, homestay Pantura ini bisa jadi pilihan. Disini juga kalian bisa melihat sunset tanpa perlu jauh jauh ke pantai lagi(yaiyalah pantainya terbentang di depan persis). 

(Homestay Pantura)
       Setelah selesai bercakap-cakap dengan si bapak kami melanjutkan perjalanan ke Bunga Jabe, perjalanan di dominasi dengan sawah-sawah, kebun dan hutan mangroove. Ternyata perjalanan menuju Bunga Jabe harus ditempuh selama tiga puluh menit dari pelabuhan, letak Bunga Jabe ini nyaris di ujung pulau persis di dekat bandara. Dan Bunga Jabe sudah tidak bisa disebut Karimun, tapi Kemujan. Jadi selamat datang di Kemujan!

        Setelah 30 
menit mengendarai motor, akhirnya kami sampai juga di Bunga Jabe. Kamar kami letaknya paling ujung, dan ketika kita membuka kamar yang kami lihat adalah lautan! Sesaat setelah kami sampai, kami disuguhi Es Teh Manis yang menyegarkan, wah rasanya lelah dan dahaga langsung hilang. Waktunya main di pantai!





       Hari ini kami putuskan untuk main-main di Bunga Jabe saja, agar lelah di badan kami setelah 5 jam perjalanan sirna. Bunga Jabe cantik sekali. Kalian bisa berenang dan main di pantai langsung dari depan kamar. Karena kami kelaparan akhirnya kami memesan makanan ke dapur penginapan. Ibu di dapur bilang mereka hanya punya lauk ikan, apakah kami tidak apa-apa?

Tentu saja, kamikan pemakan segala!



    





















      Dan ternyata masakan ikannya besar sekali, rasanya segar dan enak. Tapi karena terlalu besar kami bagikan ikanya ke Bianca, yup, Bianca adalah teman baru kami, si kucing. Nanti malam kami akan menuju ke Alun-alun, duh jangan bayangkan dulu bagaimana jalanannya, sudah pasti malam ini juga akan panjang.

Jumat, 19 Januari 2018

Book Review : Hate List


"Seperti selalu ada waktu untuk kesedihan, akan selalu ada waktu untuk penyembuhan." 

Judul: Hate List
Penulis: Jennifer Brown
Penerbit: Spring
Tahun: 2017

Blurb:
Lima bulan yang lalu, pacar Valerie  yang bernama Nick melakukan penembakan di kafetaria sekolah. Pemuda itu menembaki orang-orang yang namanya ada di dalam Daftar Kebencian yang Valerie buat.

Sebuah daftar berisi nama-nama orang yang dia dan Nick benci.

Sekarang, setelah liburan musim panas usai, Val dipaksa untuk menghadapi rasa bersalahnya ketika dia harus kembali ke sekolah untuk menjalani tahun terakhirnya di SMA.

Dihantui oleh rasa sayangnya pada Nick dan Daftar Kebencian yang dia buat, bisakah Val melanjutkn hidupnya ditengah penghakiman teman-teman sekelas dan sahabat-sahabatnya?


Review
Bagaimana Valerie harus hidup setelah dunianya hancur? setelah orang yang dia cintai pergi meninggalkan dia sendirian bersama luka di dalam dirinya, di tubuhnya.

Bagaimana Valerie harus menjalani hidup setelah semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya, ya memang sih hidup sebelum ini sudah agak kacau, tapi dia kan punya Nick, Nick yang sekarang dikenang orang sebagai pembunuh.

Mungkin Valerie hanya belum sanggup menghadapi dunia luar. Ketidaktahuan akan apa yang menghadapinya di luar setelah dia dinyatakan sebagai orang yang ikut ambil bagian dalam penembakan di The Commons.

Ketakutan tentang bagaimana orang-orang akan memandangnya? bagimana ketika dia harus bertemu temanya, atau menginjakan kaki di lorong sekolahnya lagi, setelah semua kejadian itu.

Buku ini menceritakan tentang bagaimana akhirnya Valerie bisa bangkit dan memulai kembali, walaupun benar kata Dr.Hieler bahwa kita tidak dapat menghapus hal hal menyakitkan yang pernah terjadi.

Yang harus dilakukan adalah mengeluarkan semua yang mengendap dalam pikiran Valerie, menghadapinya dan bertahan.

Tapi bisakah dia bertahan dari tatapan teman-temanya yang menuduhnya pembunuh? bisakah dia mempercayai seseorang dalam keadaanya yang sekarang?

Btw, saya baca novel ini jadi inget novel satu mata panah pada kompas yang buta milik Kak Suarcani, tentang narapidana yang keluar dari penjara dan mencoba melanjutkan hidup, mirip seperti Valerie.

Saya suka plotnya, cerita dengan alur maju mundur yang menceritakan bagaimana kejadian tanggal 2 Mei tersebut berlangsung dan bagaimana Valerie melalui hari-hari setelahnya.

Tapi saya masih merasa kurang, entah kenapa saya penasaran apa alasan Nick melakukan penembakan, apa saja yang Nick dan Jeremy lakukan sebelumnya.

Terasa masih mengantung, andai saja ada POV Nick :")

Btw, untuk teman-teman yang sedang healing dari  kalian bisa juga coba baca ini, atau falling into place-nya Amy Zhang, dan Sepasang Mata Panah pada Kompas yang Buta. Mungkin kalian akan menemukan sesuatu yang dapat kalian ambil atau entahlah, perasaan bersyukur? mungkin.

"Karena siapa diri kita seharusnya adalah pertanyaan termudah untuk dijawab, kan? Hanya saja, untuk waktu yang sangat lama itu tidak mudah buatku. Mungkin memang tidak pernah mudah."

Have a great day!
This entry was posted in

Kamis, 12 Oktober 2017

Book Review : Falling Into Places

 


Judul : Falling into Place

Penulis : Amy Zhang

Format: Soft Cover

Penerbit: POP

Tahun : 2016 


Bulrb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan?


Review:

Saya selalu suka terjemahan Ice Cube! Penerbit pertama yang rasanya setiap buku terjemahanya saya tunggu-tunggu 😍


Dan ketika saya baca buku ini, saya sampai tanya ke Ice Cube apakah mbak yang menerjemahkan punya akun media sosial. Saya mau berterima kasih karena beliau sudah menerjemahkan buku ini dengan bagus sekali. Kalau gak salah mbaknya hanya punya facebook saja.


Saya suka sekali soalnya, bahkan baru beberapa lembar saja sudah dibuat jatuh cinta dan buku ini masuk jajaran buku fav saya di 2016💙 Semoga buku Amy Zhang lainnya juga diterjemahkan.


Saya jatuh cinta pada buku ini sejak halaman pertama. Menurut guru guiding saya waktu SMK, delapan detik pertama dalam sebuah pertemuan adalah delapan detik yang menetukan apakah orang akan tertarik atau tidak kepada kita.


Nah dalam sebuah buku/cerita juga begitu, beberapa kalimat utama adalah penentuan. Apakah buku itu menarik atau tidak, lanjut dibaca atau tidak.


Dan buku ini berhasil menarik saya sampai berbab-bab selanjutnya. "Aku" membawa saya berpetualang menjadi seorang Liz Emerson, membuat saya seperti berdiri di sepatu Liz, ikut merasakan rasa sakit yang Liz rasakan, melihat sendiri bagaimana Liz akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang menurut orang lain sempurna


Falling Into Place sendiri menceritakan ttg Liz Emerson, gadis populer di SMA Meridian yg sebenarnya telah hancur berkeping-keping bahkan sebelum ia mencoba bunuh diri dgn menabrakan mobilnya keluar jalur tol, menguji hukum newton yg belum dia pahami saat kelas fisika.


Liz Emerson gadis cantik dan populer di sekolahnya bunuh diri? Apasih yang membuat Liz sampai bunuh diri padahal dia punya segalanya. Populer, cantik, dan disukai banyak orang.


Hidup sempurana ternyata tidak selalu membuat orang bahagia. Dan seperti yang Liz bilang bahwa "Kenyataanya tidak sesederhana itu."


Jadi apa yang membuat Liz mengakhiri hidupnya?


"Kesunyian adalah hal yang paling dia takuti sejak lama."


Alur maju mundur yang menggunakan POV ketiga "aku" malah membuat saya ingin cepat cepat mengakhiri buku ini, penasaran siapa si aku, dan ingin segera mengakhiri penderitaan Liz, apapun hasilnya. Hidup atau mati. Tapi juga tidak mau segera berpisah. Saya mau tetap di samping Liz, membisikan kata kata-kata yang "aku" bisikkan.


"Tetaplah hidup"

"Tetaplah hidup"


Setelah kecelakaan mobil (bunuh diri) yang menimpa Liz kemarin, apakah Liz masih sanggup hidup? Apakah Liz masih mau bertahan hidup?

Semua orang mempertanyakan keputusan Liz, sepertiga dari siswa sekolah datang ke tempat kejadian sambil menangis.

Entah menangis karena kehilangan Liz, atau menangisi diri sendiri. karena merasa bahwa Liz saja yang sempurna bisa hancur berantakan, apalagi mereka, bukan?

Pada akhirnya, yang tertinggal hanya Liz si gadis dengan segudang mimpi-mimpi terlupakan, sampai dia menabrakan mobilnya hingga tiada lagi yang tersisa.

Tapi tidak adakah kesempatan kedua yang Liz berikan pada dirinya sendiri? Tidak adakah keinginan untuk mencoba hidup sekali lagi?

_____________________

Saya sudah bilang belum kalau novel ini salah satu novel fav saya di 2016? Sudah ya? Perlu penjelasan lagikah kenapa jadi fav?

Penulis membuat setiap bab terasa begitu berat dan frustasi. Tapi saya tidak kunjung berhenti membaca, hanya karena saya begitu berharap pada Liz. :") Sekecil apapun. Semustahil apapun.

Buku debut dari Amy Zhang ini sukses membuat saya memberikan lima bintang, bahkan rela re-read di tengah skripsi dan readingslump yg berkepanjangan :")


Dengan alur campuran yaitu maju-mundur, penulis berhasil membuat saya penasaran bab berikutnya, apalagi yg blm kita ketahui tentang alasan Liz bunuh diri.

Setiap bab terasa cukup, tdk berlebihan bahkan bs dibilang sedikit. Jarang sekali ada dialog.

Uniknya POV dalam novel ini menggunakan POV ketiga "Aku"  yg membuat pembaca terus menebak apa hubunganya dgn Liz.

Setiap babnya mengandung rasa frustasi dan kesedihan. Rasa frustasi Liz terhadap banyak hal ketika dia hidup. Juga kesedihan yg dialami oleh orang di dekat Liz yang tidakk menyangka bahwa seorang Liz Emerson akan bunuh diri.

Novel ini terlalu sendu.
Karakternya jg terasa real.

Liz yg menginginkan perhatian dan penuh rasa bersalah.
Julie yg tidak suka diperhatikan dan rapuh.
Atau Kenny yg senang jadi pusat perhatian dan tidak mau disaingi.

Tipikal anak-anak populer saat SMA.

Btw saya juga suka Liam, cowok yang naksir Liz dari dulu secara diam-diam, sedikit sih porsinya, karena kan dia cuma bisa melihat Liz dari jauh. Tapi kehadiran Liam bikin cerita jadi terasa lebih 'normal'. Oh jgn lupa soal ibunya Liz, yang berusaha jadi ibu yang terbaik dan membebaskan tapi malah kehilangan Liz.

"She wished to be happy, and fell asleep with an entire sky above her"
"Dia mendambakan kebahagiaan, lalu jatuh tertidur beratapkan langit luas yang mengawasinya"

Diatas adalah quotes fav saya. Bisa bedain kan asli sama terjemahannya? Tapi terjamahannya malah bikin novel ini makin terasa syahdu. Makasih Pop Ice Cube dan Mbak Rini sudah menerjemahkan novel ini 

Rate : 5/5
This entry was posted in

Rabu, 13 September 2017

Book Review : My Grandmother ask Me to Tell You She's Sorry

Judul : My Grandmother Ask Me to Tell You She's Sorry

Penulis : Fredrik Backman
Penerbit : Noura
Tahun : 2016

Sinopsis :

Pernahkah kau merasa ingin pergi dari dunia nyata? Saat kau terasingkan, dan orang-orang di sekitarmu tampak tak memedulikanmu, bahkan seakan membencimu?

Elsa sering merasa demikian. Misalnya, saat teman-teman menghukumnya hanya karena tidak menyukai syal yang dikenakannya. Atau saat Elsa bicara jujur, mereka mencemoohnya. Sangat jelas mereka membenci Elsa. Itu semua karena Elsa berbeda dari anak lainnya.

Elsa pernah bertanya, apakah menjadi berbeda itu salah? Nenek berkata bahwa menjadi berbeda itu bagus, dan teman-temannya saja yang bodoh. Lalu Nenek berkisah tentang dunia yang berisi pahlawan dan makhluk negeri dongeng. Negeri istimewa yang hanya bisa dikunjungi anak-anak istimewa. Semenjak itu, Elsa sering pergi ke negeri dongeng kapan pun dia mau, bersama Nenek tentunya.

Sampai suatu saat, Nenek tak bisa lagi menemani. Nenek harus pergi, sangat jauh, sendiri. Sebagai permintaan terakhir, Nenek mengirim Elsa untuk menjalani sebuah misi. Misi khusus yang hanya sanggup dijalankan oleh Elsa dan kelak bisa mengubah jalan hidup siapa pun yang terlibat di dalamnya.

____________________

Sebenernya tertarik sama Karya Backman karena banyak yang bilang novelnya bagus, rate di goodreads juga bagus, 4,02🌟

Nah, kebiasaanku kalau pengen beli tapi masih bingung beli engga, beli engga, biasanya aku baca dulu sampelnya di google play book atau kindle. Kalau bagus beli kalau enggak ya yaudah bhay.

Jadi buat kalian yang suka bingung beli apa enggak novelnya, coba aja baca dulu sampelnya, teeus liat reviewmya di goodreads biar gak kena zonk (walau kemungkinan tetap ada) kalau dirasa cocok, tinggal kalian beli deh e-book maupun versi cetaknya.

Bisa dibilang buku ini mengandung ekstrak bawang. Sepertiga bagian awal udah langsung dikasih irisan bawang. Membuat kita ingin mengupas satu persatu kisah Elsa, walaupun mata pedih dan tiba-tiba berair.

Kukira sisanya akan di isi dengan petualangan Elsa, ternyata masih ada irisan bawang yang belum selesai di kupas.

Buku ini menceritakan tentang Elsa, gadis unik yang jadi korban bullying di sekolahnya. Penyuka dongeng, nenek dan salah satu penghuni Miamas.

"Itulah mengapa Elsa selalu menyobek pesan-pesan di dalam loker...........Elsa menyobek-nyobek kertas itu hingga kecil-kecil dan tidak bisa dilihat lagi, lalu membuangnya ke berbagai tong sampah di seluruh sekolah. Elsa mengampuni mereka yang menulis pesan-pesan itu karena jika Nenek sampai tahu dia akan memukuli mereka semua sampai mati."

Kutipan di atas adalah salah satu momen berbawang (dan .... Itu bener bener bikin aku terpukul) anak sekecil Elsa sudah mendapat perlakuan buruk di sekolah, menjadi korban keisengan teman-temanya, kadang aku bertanya-tanya kenapa sih orang bisa punya keinginan untuk merundung anak lain?

Sejujurnya kisah Elsa di sekolahnya ini gak asing, kita pasti sering denger, ataupun tahu bahkan mungkin salah satu dari kita merasakan apa yg Elsa rasakan.

Untungnya Elsa memiliki dua pahlawan super, pertama adalah Mum, kedua adalah neneknya.

Nah, disinilah peran nenek begitu kuat diceritakan bahwa nenek seorang pahlawan super, yang menghibur Elsa dengan dongeng dan segala kelakuan uniknya! ❤

Nenek Elsa sering mengajak Elsa pergi berpetualang ke dunia setengah terjaga bernama Miamas

Di Miamas Elsa juga bisa jadi ksatria dan membawa pedang. Nenek Elsa juga sering mengajak Elsa melakukan hal-hal seru.

"Ada sesuatu yang istimewa tentang rumah nenek. Kau tidak akan pernah melupakan bagaimana aromanya."

Sebagai anak yang kehilangan nenek saat masih SD aku ngerasa relate sama Elsa, apalagi waktu kecil aku juga tinggal sama nenek, karena orangtuaku kerja diluar kota.

Aku suka banget cara Nenek Elsa mendongeng. Di Miamas tidak ada batasan, karena kita tidak pernah tahu dari mana asal ataupun akan berakhir dimana di Miamas.

Di Miamas juga kamu tidak akan dipukul hanya karena syal Gryffindormu terlihat jelek di mata teman-temanmu.

Di Miamas salah satu kerajaan setengah terjaga, kamu akan jadi pahlawan. Jika kerajaan di dunia ini di bangun dengan semen, Miamas dibangun spenehunya oleh imajinasi.

"Jika kau tidak bisa menghilangkan hal-hal buruk, kau harus menutupinya dengan kebaikan."

Aku suka banget petualangan Elsa, gimana Beckaman menulis dari sudut pandang anak-anak yang masih lugu. Bagaimana buku ini beecerita dengan begitu hidup, kalian bisa tertawa, tiba-tiba sedih, lalu merasa begitu hangat di bab berikutnya.

Bagaimana Backman mendeskripsikan nenek Elsa yang begitu kuat dan unik dengan segala pola pikirnya. Mengajarkan kita juga jika nanti kita punya anak, kita harus bisa jadi teman, pahlawan, juga orang tua bagi anak kita.

Dan tidak apa-apa menjadi berbeda, kita boleh jadi apapun, kita bisa jadi apapun, yang kita mau.

Bagaimana Elsa menyelesaikan misi-misinya adalah sesuatu yang heartwarming, Nenek betul-betul tahu cara menjadi pahlawan super dan menjaga Elsa.

Happy friyay! 💕💕
This entry was posted in

Rabu, 12 Juli 2017

Biru

 


Dalam ketidak berdayaanku menghalau mu dalam kenangan.

Sebenarnya aku ingin mencintaimu secara sukarela, tanpa memikirkan betapa terlukanya jika terabaikan.

Adakalanya aku memikirkanmu dalam waktu-waktu lenggang, di antara rindu dan merelakan.

Aku ingin banyak menulis puisi, tapi hujan tak kunjung datang. Dulu, katamu kau suka hujan, aku tidak tahu sekarang.

Andai saja kamu mau memberi kesempatan, mungkin jalan-jalan berdua tak jadi persoalan.

Kita akan menghabiskan senja dipinggir pantai, berdua saja, menelusuri jembatan. Menunggui matahari turun, dan senja berlalu.

Ingatkah kamu aku paling suka waktu biru, waktu diantara terang dan gelap?

Kadang saat aku terjebak di jalanan pada waktu itu, aku ingat kamu. Hanya saja, luka tak boleh sering-sering di ingat. Iyakan?

Aku banyak foto-foto waktu biru, sebagiannya kupersembahkan untukmu.
This entry was posted in

Sabtu, 25 Februari 2017

Aku Punya Waktu, Selalu.




Aku punya secangkir kopi dan beberapa camilan.

Kamu boleh bercerita sepanjang kamu mau,

Kamu boleh berbicara tentang apa saja.


Aku punya waktu, untukmu.

Aku menghadiahkanmu waktuku, yang mungkin tak terlihat

berharga dimatamu.


Kamu tau betapa berharganya waktu?

Tak terbeli, walaupun kamu punya uang satu lemari.


Dan aku menghadiahkanmu waktuku? Betapa istimewanya kamu,

bukan? sampai kuhadiahkan sesuatu yang begitu 

berharga.


Coba sebentar saja, duduk di sini, kamu boleh bercerita apa saja,



Kamu boleh bercerita tentang siapa saja, akan kudengar, 

sekalipun tentang kekasihmu. 
This entry was posted in

Jumat, 27 Januari 2017

Mungkin

 


Mungkin,

Mungkin lain kali, atau kali lain dalam suatu hari yang cerah di penghujung Januari, atau bulan depan di saat gerimis masih terus datang.

Kita bertemu di belokan dekat ujung jalan, yang memisahkan kita antara kiri dan kanan.

Atau barang kali, jalan itu sendirilah batas, antara masa lalu dan masa depan.

Perihal rindu dan dendam yang tak mungkin sama-sama tergenggam

Kita adalah dua orang yang tak lagi sepaham.

Pada akhirnya lama-lama kita akan lupa, pernah berbagi bahagia yang sama.

Pada akhirnya waktu tidak menyembuhkan tapi membiasakan.

Pada akhirnya luka walaupun ada bekasnya, mengering juga.

Apa salahnya jadi lupa pernah jatuh cinta?

Toh kini kita bukan lagi siapa-siapa.

This entry was posted in

Senin, 21 November 2016

Di Waktu-waktu Tertentu






Di waktu tertentu. 

Di waktu-waktu tertentu ketika aku melewati belokan atau

 jalanan yang dulu sering kita lalui, aku berharap, sekaligus

tidak, bahwa kamu juga melewatinya. 




Di waktu-waktu tertentu ketika rindu menyerang, aku 

berharap kamu juga sedang melamunkanku di sudut 

ruangan.



Di waktu-waktu tertentu ketika aku tertawa bersama 

temanku, aku berharap kamu tak lagi melintas di kepalaku. 



di waktu-waktu tertentu ketika aku harus menelan dengan

susah payah makanan kesukaanmu, hanya karena aku lupa


makanan tersebut tak lagi bisa kita bagi dua seperti dulu.



dan ada pula waktu dimana aku ingin menenggelamkan 

segala kenangan bersamamu, tapi juga tak ingin lupa 

betapa bahagianya aku, 


dulu.
This entry was posted in

Minggu, 13 November 2016