Kamis, 01 September 2022

Goes To Dieng Culture Festival

 

Hai! 

Akhirnya aku nulis blog tentang traveling lagi setelah sekian lama.

        Kali ini aku bakalan ceritain gimana implusifnya aku dan temenku ke Dieng Culture Festival alias DCF. Kami udah ngincer tiket DCF jauh-jauh hari sebelum penjualan tiketnya dibuka, ketika tiketnya dibuka, kami cuma 3 orang sedangkan minimal pemesanan 4 orang, bahkan homestay mereka kadang ada 8 orang jadi ada banyak banget tiket yang dibeli 4 org eh homestaynya dapetnya 8, dan harganya luar biasa.

         Selain bundling tiket dan homestay yang mahal, tiketnya cepet banget habis, pas kita masih mikir-mikir dan cari temen tau-tau tiketnya sold out hehehe.

           Akhirnya kita urungkan niat kita ke DCF dan cari rute baru. Sampai suatu ketika lagi iseng-iseng buka Instagram, ternyata tiket individu dijual. Tiket + merchandisenya aja masih available (bahkan tiket ini masih ada sampai H+1) padahal kalau lihat di twitter, tiket itu awalnya habis beberapa jam setelah di pasarkan) mungkin juga karena harga tiket tahun ini 2 kali lipat dari tahun 2019 plus pajak 11%. 

      Harga tiket individu sendiri sekitar 823.500 (sudah sama ppn), Apa aja yang di dapat dalam bundling individu, ada ID-Card, T-shirt, Kain jarik, caping gununglampion, masker, kupluk, kopi ABC sachet, yang semuanya ada di dalam goodie bag, kita juga dapat Free Pass Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.

 \

     Perjalanan pertama dimulai dari stasiun Pasar Senen, kereta kita jam 22.30 dan sampai di Purwokerto jam 04.14. Jujur karena ini pertama kalinya ke DCF, dan kita persiapannya kurang matang karena dadakan bgt, akupun ngerasa nggak terlalu nyiapin fisikku. Bawaan kita banyak banget, mana bawa jaketku yg tebel nyaris 2/3 tas dan jadinya penuh banget, aku juga bawa 1 totebag jajanan yang gedeee beud.

 

Setelah sampai di stasiun Purwokerto, kita sempetin buat istirahat di mushola di belakang stasiun sembari nunggu subuh. Btw, stasiun purwokerto cukup rapih dan nyaman. Musholanya kecil di belakang tapi kamar mandinya luas dan bersih. Cuma emang ada ya orang-orang yang kalau pipis tuh padahal cewek gitu, becek semua kayak habis nyuci motor. heu.

    Setelah solat kita langsung keluar stasiun, awalnya kita diarahin untuk keluar dari pintu selatan biar bisa naik angkot (kata mas-mas cleaning service), tapi setelah kita tanya pintu keluarnya dimana, bapak satpamnya nyarain kita untuk naik trans jateng aja, jadi kita keluar ke pintu utama dan jalan kaki sekitar 10-15 menit ke arah halte Trans Jateng. Bus dan haltenya sama kayak yang di Semarang dan nunggu busnya lama banget, jujur. Tapi perjalanan terakhirnya memang Trans Jateng ini ke terminal, jadi cukup sekali naik aja, btw, ketika kalian menuju halte Trans Jateng jangan lupa beli jajanan pagi atau sarapan di sepanjang jalan kesana, karena sepanjang jalan ada banyak yang jualan dari mulai nasi sampai jajanan pasar.

Pemandangan di depan halte trans jateng

         Pas kita turun di terminal Purwokerto kita diarahin ke belakang sama bapak-bapak calo atau porter gatau identitas si bapak ini apa, untuk naik bus, waktu itu kita naik bus Teguh. Busnya ngingetin sama bus yang aku naikin dari Baluran ke Banyuwangi. Busnya kecil dan jenis lama. Busnya ngetem nggak lama dan sepi, tapi pas udah keluar dari stasiun beh, banyak banget ibu-ibu bapa-bapa yang mau kepasar, anak sekolah, mba-mas mau kerja, karena ya emang masih hari kamis juga. Jadi busnya penuh banget, jarang sepi. Akhirnya setelah diputer dua kali di Banjarnegara, kita sampai di Wonosobo juga sekitar jam 9 pagi.


        Finalleeeeeh kita sampai juga dalam keadaan cuaca mendung dan dingin bangeeet. Agak shock juga sama cuacanya tapi ajaibnyaaaaaa aku gapernah pilek disini, kageeeet bgt. Hidungku sensitif banget, di Jakarta hampir tiap hari pilek, apakah aku cocok dengan udara disini? tapi yang jelas aku gak cocok sama hawa dingginya sih. Gak terbiasa mungkin. Cuacanya ngaco banget, kadang dingin banget kadang panas banget. Untungnya selama 4 hari disini cuma pegel doang karena kebanyakan jalan bukan karena sakit. Huhuhu Alhamdulillah.

Pagi di wonosobo

        Sampe di rumah temennya temenku kita kenalan dan bersih-bersih, lalu sarapan, btw masakan Ibunya enak dan fresh, there is nothing can beat fresh food alias sayur yang baru dipetik langsung dari kebun dan dimasak adalah yang terbaiks.

        Kita nunggu sampai siang karena nggak dapat-dapat juga balasan dari tukang sewa motor, niatnya mau naik angkot aja dari depan gang rumah buat cari sewaan motor, tapi Ibu nyaranin untuk bawa motor NMAX milik dia, kupikir temenku yang bakalan bawa, melihat aku pendek (sadar diri) udah pasti nggak nyampe itu motor, mana berat. Ternyata aku yang nyetir, jujur degdegan banget ternyata aku bisa juga hahaha


        Sore ini kita jalan-jalan sebentar setelah dipinjemin motor sekalian juga mau cari motor buat besok kita ke Dieng biar nggak ngerepotin gituloh. Motor sewaan pertama ternyata kosong, motor sewaan kedua ternyata nggak available dan dua-duanya bakalan ngabarin pas malem kalau ada. Setelah muter-muter kita nyempetin jalan-jalan ke landmark Wonosobo dan juga ke alun-alun Wonosobo. Di alun-alun kita makan mie ayam dan jalan-jalan muterin alun-alun sambil foto-foto aja.



Magrib kita udah di rumah lagi buat beres-beres apa aja yang mau dibawa ke Dieng besok. See u tommoroooow!

Sabtu, 19 Maret 2022

And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Tittle        : And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer (A Novella)
Author      : Fredrick Backman
Published : 2015
Publisher  : Atria Book
Page          : 70 - Scribd

Book descriptions:

A little book with a big heart!

From the New York Times bestselling author of A Man Called Ove, My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry, and Britt-Marie Was Here comes an exquisitely moving portrait of an elderly man’s struggle to hold on to his most precious memories, and his family’s efforts to care for him even as they must find a way to let go.

With all the same charm of his bestselling full-length novels, here Fredrik Backman once again reveals his unrivaled understanding of human nature and deep compassion for people in difficult circumstances. This is a tiny gem with a message you’ll treasure for a lifetime.


Review :

I think I know why I attached to Backman books, Backman always had 'Grandma' and 'Grandpa' as the main character, which I don't have, now.

From the 5th book that I already read from Backman, there is no single book that I don't like. All the stories makes me sad and warm at the same time.

This novella is about an abuelo who suffer from dementia, he tried to recall his memories, the memories he want to keep and afraid to forget, because he keep losing his memories day by day.

Not only the Grandpa side, it's also show how hard and sad to be the family, they see the Grandpa suffering while the only thing they could do is acompany him. And telling the stories that Grandpa told them, so he maybe could remember.

When i read the other Backman book, they sometimes giving the happy and cheerfull moment so we could breath while trying to finish the book, but this is the second time after "The deal of the life time" i need to brace myself to finish this book, it's was gloomy and dark, yet beautiful.

Maybe this is why we don't want to grow up, because its scared us much. Imagine someday we will forget everything and suffer trying to recall and hold onto the memories.

I love all the characters, i love what the love they had for each other. I hope that we have someone to hold our hands, so that we don't feel lonely going through this someday.

Have a great weekend! 🌻
This entry was posted in

Sabtu, 17 Oktober 2020

A Beam of Light


Sepertinya ada yang salah...
Itu kalimat yang ku rasa paling menggambarkan keadaan waktu itu, ada sesuatu yang salah dalam diriku, yang menggerogotiku setiap hari.

Setiap hari aku melakukan hal yang sama berkali-kali, bangun, kerja, pulang, tidur, siklus itu kualami setahun belakangan tapi seperti ada lubang yang mengaga, yang kosong, yang terus-terusan minta diisi.

Aku berkali-kali menangis tanpa tahu sebabnya, aku berkali-kali bilang pada diriku bahwa aku harus bekerja terus menerus atau perasaan kosong ini akan semakin parah, itulah kenapa kerja adalah cutting off dari overthinkingku. Agar aku lupa perasaan kosongku.

Tapi namanya lubang, kalau kamu ada didekatnya dan tidak segera menutupnya, kamu jatuh juga.

Hari itu aku ingat sekali, aku bangun pagi seperti biasa tapi yang kulakukan hanya duduk diam, menangis. Aku tidak tahu apa yang salah, tapi aku merasa terlalu lelah, aku ingin berhenti sebentar.

Tapi dunia di luar kamar kosku tetap berputar, kerjaan di kantorku tetap menumpuk, abang bakso tetap berjualan, burung tetap terbang, hanya aku yang berhenti.

Akhirnya dengan segala kekalutan, aku berangkat kerja dan menemukan dirku melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak perlu.

Aku merasa aku tidak berguna, aku merasa aku begitu bodoh.

Aku tahu ada yang salah dan harus segera kuperbaiki, aku harus bersih-bersih pikiranku.

Akhirnya setelah seminggu merasa hampa, aku memutuskan untuk mereview semua kegiataanku selama setahun, membaca semua notes keseharianku selama setahun belakangan, berusaha menemukan apa yang salah sama diriku.

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tahun depan (2020) aku harus punya tujuan, karena selama ini aku seperti daun di sungai, ikut mengalir tapi tidak tahu kemana arahnya. Hanya ikut arus.

Aku tidak pernah punya tujuan pasti, harapan, dan mimpi yang ingin kucapai.

Setelah aku hanya tiduran berjam-jam sembari memikirkan masa depanku, mau dibawa kemana hidupku, aku berusaha untuk menulis kembali, menulis satu-satu hal yang ingin aku capai, tujuan-tujuanku kedepan, keinginan-keinginan yang tertunda, mimpi-mimpi yang belum kurealisasikan.

Aku urutkan satu-persatu, apa yang ingin kucapai dalam sebulan, setengah tahun, setahun, tiga tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun kedepan. Bahkan long life goalsku.

Aku mulai punya semangat lagi, aku mulai punya sesuatu yang ini kugapai, sesuatu yang ingin kuperjuangkan, hal-hal yang ingin kulakukan, bukan cuma kerja, kerja, kerja.

Aku menemukan diriku sendiri disudut ruangan bangkit dan berusaha memulai lagi. Aku merasa aku lebih hidup dalam beberapa tahun belakangan ini.

Aku bersyukur aku bisa menemukan seberkas cahaya di kegelapan.

Aku berharap jika ada yang membaca catatan ini dan merasakan hal yang sama, take your time, tidak apa-apa untuk berhenti sebentar lalu kembali menata hidup.

Tidak apa-apa kita tertinggal, nanti kita bisa berjalan lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa bingung, nanti coba lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa sendiri, nanti kita bisa bercerita lagi,

Tidak apa-apa merasa tidak berguna, nanti kita berusaha lagi.

 It's okay not to be okay, hang on there!!! You are worth it. 💕

This entry was posted in

Minggu, 12 Juli 2020

Book Review : Britt-Marie Was Here

 



Title : Britt-Marrie Was Here

Year : 2016

Publisher : Sceptee

Author : Fredrick Backman


Blurb :

At first sight, Britt-Marie is a fussy, passive-aggressive busybody. But hidden inside her is a woman who has bigger dreams and a warmer heart than anyone around her imagines. When she finds herself alone for the first time in decades, she realizes she's spent her life making choices for the sake of other people.

Is lt too late for her to change?

And In a small town of big-hearted misfits, can Britt-Marie find a place where she truly belongs?


Review :

I already read two of Backman books, first is My Grandmother Ask Me to Tell You she's Sorry, and the second book was A Man Called Ove.

Backman never disapoimyed me with his work. Even his IG caption always fun to read and both Indonesian and English translations (because the original book is in Swedish) is able to make me fall in love even though it has been translated.

Reading Britt-Marie is like drinking fresh afternoon tea (sugar free), bitter and warm. And that's my cup of tea.

In one chapter I can laugh at how eccentric Brittmarie's is, but in another chapter i want to crying with Britt-Marie. This rollercoaster feeling you had when you read Backman books.

There is a lot we can learn from Britt-Marie and the people at Borg. We can't judge people only from their appearance, we need to listen to other, because maybe he's right and we are wrong. We need to be more open to everything ahead us.

Britt-Marie teach us, that small things matter.

Here's one of the quotes from Britt-Marie,

"As people do when they don't have the ability to distinguish between 'a place to live' and 'a home'.  It's actually thoughfulness that makes the difference."

I recommend this book to people who are on their way to finding a 'home' to be back, finding someone who waits behind their bedroom window and stays awake for you. Finding their self, the true self, someone who want to try to be more open to the new world. 

For people who believe that little things matter and can change big things, and the fact that there is someone remembers you.

I hope you could find a warmth like how pizzeria welcome their guest. Have a nice Monday tomorrow!  💕



This entry was posted in

Minggu, 06 Oktober 2019

Book Review : A Man Called Ove

 

Judul : A Man Called Ove

Penulis : Fredrik Backman

Penerjemah : Ingrid Nimpoeno

Penerbit : Noura Books

Terbit : 2016


Sinopsis :

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai keujujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup.  Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu... masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?


____________

Review : 

Sebenarnya sudah ngewishlist ini dari lama...lama.... banget. Tapi, entah kenapa setiap beli novel baru, novel ini gapernah kebeli, sampai suatu hari aku baca sampelnya di kindle dan ngakak lah aku.

Akhirnya dapat novel ini dari Ka Jiha, tapi malah baca My Grandmother Ask Me to Tell You She's Sorry duluan yang aku beli dari Ka Jiha juga 😂

MGAMTTYSS ini Neneknya Grumpy juga kayak Kakek Ove dan sudah kuselesaikan kemarin, full reviewnya di postingan sebelum ini ya.

Semoga aja nanti Britt-Marie yang lebih grumpy di terjemahkan juga.


Ove ini Dark Cokelat kaliya. Dia bitter juga sweet, dan tentu aku suka sekali dark cokelat, mungkin inilah kenapa Ove tipeku banget.

Kalau ditanya suami idaman, aku gak akan ragu untuk bilang Ove. He's the most caring person i've ever read (re:novel) in my whole life.

Hubungan Ove dan Sonja ini kalau diibatarkan, Ove ini Hujan dan Sonja adalah pelangi. Ove bukan tipikal cowok novel romance novel, dia bukan kaka kelas ganteng badboy, orang kaya raya, CEO muda nan tampan, ataupun sahabat baik hati. He's none of 'em.

Ove hanya laki-laki pekerja keras dan jujur. Dia ini kaya apa ya, buah nangka? Yang kalau dilihat dari luar kasar aneh tapi pas dibuka buahnya manis banget. He's such a person.

Aku muji-muji Ove banget ya, memang dia ini sesweet itu walau dengan caranya yang grumpy banget. Dia ngeselin tapi penuh perhatian.

Dia ini tipe yang gak banyak bicara tapi lebih banyak aksinya. Dia nggak suka basa-basi, dia melakukan hal-hal yang menurut dia perlu dia lakukan.

Seperti MGAMTTYSS novel ini juga bisa memuat moodmu naik turun, kadang kamu akan terpingkal-pingkal, tapi setelahnya kesedihan menyergapmu tanpa tedeng aling.

Aku sepertinya jatuh cinta dengan tulisan Backman, 2 bukunya berhasil mengaduk-aduk perasaanku.


Walau aku lama banget nyelesainnya, aku gak nyesel, karena aku menikmati banget terutama bab-bab terakhir. Yang nyaris membuatku nangis saking nggak relanya.


Karena Ove begitu hangat dan manis dengan segala keterusteranganya.


Aku juga berharap aku bisa baca lebih banyak interaksi Ove dengan anaknya Parvaneh, karena apa? He'll be the sweeteeeeest granpa ever!!

Aku gapunya banyak hal yang mau kuceritakan soal bukunya, aku cuma punya segudang pujian untuk Ove.

Semoga kita akan menemukan Ove versi kita yang akan mencintai kita setulus Ove mencintai Sonja. Dan bisa menjadi Sonja yang mau menerima segala kekurangan Ove.💕



This entry was posted in

Senin, 24 Juni 2019

[Traveling] Karimun Jawa - Bunga Jabe


Yaampun sudah berapa bulan ya saya ngedraft post ini hahaha, memang malas adalah sesuatu yang mengerogoti jiwa, halah.

Berhubung saya punya banyak stok foto Bunga Jabe, dan rasanya sayang kalau tidak saya upload, karena Bunga Jabe pagi hari itu cantik sekali, beneran. Maka saya dedikasikan post ini untuk Bunga Jabe. Semoga berkenan ya.

Semoga teman-teman setelah melihat ini dan baca ulasan kegiatan saya di Karimun Jawa jadi tertarik untuk menginap di Bunga Jabe, jangan lupa pesan makan juga, masakan ibu-ibunya enak banget!!. 

Bunga Jabe Beach adalah salah satu penginapan di Pulau Kemujan, Karimun Jawa. Terletak di sebelah timur Karimun Jawa tepat di dekat bandara. Karena posisinya yang paling ujung itulah juga yang membuat Bunga Jabe menjadi salah satu tempat melihat sunrise terbaik di Kemujan. Saya sih setuju banget, sunrise disini kalau golden hour wah kelar deh. Dan saya suka Bunga Jabe yang tenang dan jauh dari kebisingan.


Untuk ke Bunga Jabe kita harus menempuh perjalanan selama 30 menit dengan sepeda motor. Melalui kebun, sawah, pantai, jalanan naik turun, hutan mangroove ketemu biyawak. Nanti kalian akan menemukan bandara di sebelah kiri, pelan-pelan lihat ke kanan, Plang Bunga Jabe (foto di atas) dapat terlihat beberapa meter di depan, plangnya sebelah kanan, plang sebelah kirinya kecil, jadi kemungkinan tidak terlewat.

Have a great day everyone!

























Mas-mas dan ibunya ramah banget, makanannya enak semua, apalagi jajanan tiap pagi, aduh nagih banget.

Note :
Kelebihan : Pantai pribadi, Makanan enak, tempat nyaman, host yang ramah, harga relatif terjangkau, bisa lihat sunrise dan plaknton kalau neruntung, bisa langsung berenang di depan penginapan.

Kekurangan : Meni jauh pisan euy, gelap gulita kalau pulang malem.

Bunga Jabe Beach
Rate : 50-450rb/malam
No.tlp : +62 853-2648-0858 (Mas Opik)

[Traveling] Karimun Jawa - Akomodasi

 



Post kali ini saya akan memberikan sedikit gambaran tentang pengeluaran dan informasi seputar jadwal kegiatan selama di Karimun Jawa. Kalian bisa bagi dan kalikan sendiri sesuai kebutuhan, dan sharing bareng teman.

Itinerary Karimun Jawa
Day 1 
19.00-21.00 - Pelabuhan Jepara
21.01-02.59 - Istirahat kalau bisa
03.00-05.00 - Antre Tiket Feri Siginjai
07.00-11.30 - Perjalanan Menuju Karimun Jawa
12.00-17.00 - Makan, dan Main di Bunga Jabe
18.00-19.00 - Mandi dan siap siap ke Alun-alun Makan
19.00-21.00 - Makan di Alun Alun
21.00 - Istirahat

Day 2
05.00 - 07.00 - Subuh, dan berburu Sunrise
07.00 - 08.00 - Mandi, Sarapan
08.00 - 10.00 - Explore Kemujan (Mangroove, Sawah, Bukit)
11-00 - 14.00 - Istirahat 
14.00 - 18.00 - Berburu pantai untuk Sunset
19.00 - Pulang ke Bunga Jabe, makan dan istirahat, siap-siap besok tour laut.

Day 3
08.00-09.00 - Sarapan
09.00 - 17.00 - Tour Laut, hopping island, snorkling, penangkaran hiu, makan siang dll.

Day 4
11.00 - Beli Tiket 
13.00 - Perjalanan kembali menuju Jepara
18.00 - Sampai di Jepara

Pengeluaran selama ke Karimun Jawa (4 Hari-3 Malam)
Tiket kereta          : 300,000/pp
Travel                   : 150,000/pp
Kapal Siginjai      : 190,000/pp
Sewa Motor         : 75,000/hari
Penginapan          : 200,000/hari
Tour laut              : 200,000/hari
Makan                 : 200,000
Bensin                 : 10,000/liter

Note!
Harga travel biasanya 45rb-50rb tapi karena masih masa lebaran harga travel biasanya naik.

Penginapan :
Bunga Jabe Beach
Rate : 50-450rb/malam
No.tlp : +62 853-2648-0858 (Mas Opik)

Homestay Pantura
Rate 10-200rb/malam
No.tlp : +62 852-9004-3274 (Pak Solikul)

Sewa Motor
Rate : 75,000
No.tlp : +62 822-4301-9533 (Mas Pluwek Morgan)

Tour Laut (Nautika Karimun Jawa)
Rate : 200,000
No.tlp : +62 853-2804-8520 (Mas Gugun)

Kencana Travel
Rate : 45-75rb
No tlp poll Semarang - +62 812-2660-9009
No.tlp poll Jepara - +62 813-9262-8118

Semoga bermanfaat dan selamat berlibur ke Karimun Jawa!

[Traveling] Karimun Jawa - Hari Ke 3


Hari Ke-3

Hari ini kita bakalan ikut tour laut yeay!, tour laut kali ini kita nggak sama Bunga Jabe karena semalem sebelumnya kami kekurangan personil, jadi kita ikut open tripnya Nautika Karimunjawa punya mas Gugun.

Biasanya kalau tour laut meeting pointnya jam sekitar 9 pagi di dekat pelabuhan, karena rumah mas Gun dekat pelabuhan meeting point kami ya dirumah mas Gun. Karena kami belum sarapan sekitar jam 7an lewat kami sudah jalan ke Karimun sekalian cari sarapan.

Kami dapat sarapan gratis di bale rumah Mas Gun, BTW hahaha, dan saat sarapan itulah kami juga berkenalan dengan beberapa teman yang akan berangkat bareng. Sealain Ella dan Esty, ada Mas Gugun, Mba Atik, Mas Diki, Mas Aldy, dan dua mas mas lagi yang namanya sama yaitu Mas Arip. Setelah semua kumpul dan siap, kami berangkat dari pelabuhan menuju gosongan untuk snorkling.
(Kiri ke Kanan Mas Arip, Mba Atik, Mas Aldy, Esty, Ella, dan aku tentunya, minus Mas Gun, Mas Diki dan Mas Arip)
(Kiri ke kanan belakang, Mba Atik, Mas Diki, Aku, Ella, Mas Arip Kurus, Esty, Mas Aldy minus Mas Gun dan Mas Arip)

Sebelum saya cerita tentang snorkling, saya punya dua kejadian yang membuat saya trauma sekali dengan air, berenang. Semenjak saat itu saya pilih-pilih teman kalau diajak berenang, teman-teman yang pernah mengajak saya mantai pasti tau bahwa saya lebih sering jaga tas dibanding ikut mereka berenang, perasaan takut itu seringkali muncul tanpa pernah diduga-duga, dan biasanya saya simpan dalam-dalam biar saja mereka taunya saya malas berenang.

Selain takut berenang dan ketinggian, saya ini manja dan clumsy sekali, kalian yang teman dekat saya pasti sudah nggak kaget saya adalah orang yang harus dihadapi dengan kesabaraaaaan super extra. Itulah juga kenapa saya tidak mau ikut naik gunung karena saya tau diri, saya merepotkan hahaha.

Hari ini saya melaut bersama teman-teman baru, dalam hati saya ratusan kali bilang "nggak usah berenang" di kapal saja, liat dari atas kapal. Tapi hari ini saya mencoba memberanikan diri berenang di laut...hasilnya....saya tersedak dan hampir menangis...

Setelah mencoba beberapa kali...saya akhirnya naik ke atas kapal...saya panik...saya menyerah...

Saya dibujuk oleh mas Arip "hayo sini turun..." saya cuma senyum dan bilang "nanti mas", tangan saya gemetar...saya mau menangis....kenapasih saya harus panik dan gemetar begini...bodoh sekali...padahal jelas-jelas saya pakai pelampung!

Akhirnya saya dari atas kapal disuruh memberi makan ikan dengan biskuit agar ikannya mendekat...
saya melihat puluhan ikan di samping telapak tangan saya...berebut roti...ikan berwarna warni cantik sekali...saya mau berenang bersama ikan :"( tapi saya takut :"( saya melepas kacamata snorkling di kepala...DAN karetanya putus...saya makin ingin memangis, kenapa saya seceroboh itu sih...walau kata mas Gun tidak apa-apa...tapi saya tahu dalam hati mas gun pasti kesal, yakaaaan? ini anak udah gabisa berenang malah mutusin karet kacamata wkwkkw mas, maaf ya :"( 

Setelah belasan menit berlalu saya memberanikan diri, mumpung disekitar kapal sepi...karena buat saya, semakin banyak orang maka makin paniklah saya, suasana sepi inilah yang buat saya sedikit berani...

Oke mari kita coba lagi ya....

Saya turun sendiri  tidak ada yang mengawasi, tapi toh saya pakai pelampung. Pokoknya pikiran saya waktu itu jangan buat mas Diki dan mas Gun repot dan kesal karena ulah saya (lagi). Saya harus bisa minimal dekat-dekat perahu, pegangan sama perahu. Karena saya tau saya pasti menyusahkan sekali kalau diajari lagi.

Dan saya bisa :") berkali kali air masuk selang, berkali kali kaca berembun, sendirian saya kecipak-kecipuk dihanpiri mas Arip...dia bilang tuh sudah bisa. Dan disamper mas diki diajak ke Ella dan Esty. Ke tempat yg lebih dekat karang dan agak jauh dr perahu. Selama diperjalanan saya panik berkali-kali setiap air masuk selang ataupun kacamata berembun, payah memang, dan woi plis banget jauh banget dari kapal eta tolong, tapi mas Diki sabar banget woi saya terharu.

Saat sampai, baru juga sampai wooiii saya disuruh lepas pelampung oleh mas Gun, woi saya mau lempar mereka berdua pakai jambu merah yang saya petik di depan rumah Mas Gun, mereka berdua ini gimana sih, saya kan baru bisa berenang, mana perjalanan kesini aja butuh perjuangan disuruh lepas pelampung pula, mereka ini gak ngerti amat kalau saya panik banget woi :"(

Setelah dibujuk paksa akhirnya saya menurut lepas pelampung, yaampun saya jadi mau traktir mas Gun sama mas Diki chatime :"( mereka SABAR banget-banget woi ngajarin saya, kesabaran kalian terbuat dari lautan Karimun sih ya, luas. uluh uluh. Saya jadi bisa berenang tanpa pelampung, tanpa snorkel, tanpa kacamata. Terima kasih mas mas yang sudah bantuin dan nyemangatin!!!

Kadang saya mikir juga sih, saya tuh beruntung banget ketemu sama teman-teman yang sabaaaaaaar banget ngadepin saya yang super extra ini, wah bener bener, bukan cuma teman main, tapi teman baru kayak mereka ini juga, semoga kalian sehat selalu ya. 

Nyeselnya kalau tau saya cuma snorkling sekali, saya bakalan turutin untuk belajar turun ke dasar laut. Sayangnya karena baru tau snorklingnya sekali aja (karena yang lain udah gamau, padahal saya masih mau sih tapi sendirian masa yakali) mungkin pertanda untuk kesana lagi.

Btw, aslinya snorklingnya dua kali ya guys, di gosongan dan disekitar pulau cemara kecil. 


Oia aku akan tutup post kali ini dengan sambel rujak yg super enak!!!

have a great lunch everyoneeeee <3

Traveling - Karimun Jawa - Hari Ke 2

 


Hari Ke- 2

Hari kedua di Bunga Jabe, kali ini kami memutuskan untuk bangun pagi dan melihat sunrise. Kami kira kami tidak akan melihat sunrise, karena terturup awan. Ternyata hari ini hari keberuntungan kami, sunrise disini cantik sekali. Kami mengambil bayak foto, video dan menikmati sunrise dengan sukacita. Ah indah sekali hari ini. Saya juga melihat pasangan bule yang duduk di kursi melihat sunrise pagi ini. Jauh dari keramaian hanya ditemani debur ombak dan angin pantai. Ah 

Pasangan bule tadi duduk duduk disini menjelang matahari terbit, ah romantis bukan?

Bunga Jabe memang cocok sekali untuk menyepi, karena jauh dari hiruk pikuk kota, tenang dan nyaman. Belum lagi makananya yang enak. Sebenarnya kalau kalian memang tidak mau kemana-mana atau hanya ingin berenang, menghabiskan hari tanpa ada keinginan untuk pergi ke alun-alun ataupun explore tempat lain selain pantai (buktit atau pantai sebelah) dan hanya ingin berenang dan snorkling, Bunga Jabe adalah pilihan yang sangat tepat. Bunga Jabe punya semua yang kalian butuhkan. Nanti saya akan buat postingan khusus soal Bunga Jabe, klik disini ya linknya.

Kalian bisa menyewa cano untuk main main di laut, berenang langsung di depan pantai di Bunga Jabe bisa, ikut tour laut ke pulau-pulau yang bukan pulau 'biasanya' melihat plankton biru malam hari! Bahkan katanya kalian bisa snorkling di Bunga Jabe hanya perlu berjalan sekitar 100meter. Paket langkap bukan? Pagi ini kami disuguhi klepon buatan ibu, dan juga teh/kopi yang bisa kami buat sendiri. Yaampun kleponya enak! Nggak ngerti lagideh.


Kamipun bersiap-siap untuk pergi ke hutan mangrove. Saat sampai di hutang mangrove penjaga mangroovenya belum juga muncul, jadilah kami masuk mangroove tanpa bayar, eit tenang saja, kami tetap bayar kok ketika si bapaknya sudah datang. Berhubung Ella dan Esti takut masuk lebih dalam ke mangroove akhirnya kami hanya foto-foto di depan mangroove saja. Lumayan lah ya. Jadi saya nggak bisa cerita banyak soal keadaan sekitar hutan mangroove tapi sepertinya sih rekomen karena setelah kami sampai ada beberapa warga juga yang ikut masuk ke dalam hutan mangroovenya. 


Setelah selesai ke mangroove kami memutuskan untuk ke sawah. Hahaha, pasti kaget kan? ke pulau tapi ke sawah. Karimun Jawa itu memang wisata pantai tapi kami yang ada ada aja ini malah ke tempat yang bukan pantai. Tapi bukit-bukit yang mengelilingi karimun jawa ini oke juga loh, jadi kalau kalian bosen main ke pantai bisa mencoba alternatif kayak kami ke mangroove dan sawah. Biar besok tour lautnya aja yang puas puasain ya. 

Selain ke sawah kami juga ke hotel Asri, di hotel Asri ini sebenarnya masih dalam perdebatan, karena katanya jika ingin dikomersialkan hotel ini harus di bogkar dan dipindah ke daratan, sedangkan jika hanya untuk penangkaran hiu izin pendirian bangunan diperbolehkan.


Karena kami lapar akhirnya kami pun mencari makan disekitaran Kemujan. Di Kemujan ini selain jauh dari pelabuhan ternyata sulit sekali mencari warung makan, kami tadinya pasrah saja makan di bunga jabe lagi, tetapi kami melihat seperti cafe (saya malam sebelumnya sempat melihat cafe ini dan lumayan ramai kalau malam hari, seperti tempat hitznya anak Kemujan) Beruntunglah sudah buka, jadi kami bisa memesan makanan disini. Tapi ternyata untuk ukuran makanan di pulau jawa apalagi di kemujan, harga makanan di sini cukup mahal juga. Tepat disebelah ada minimarket jika kalian butuh beli minuman atau jajanan, tapi pastikan cek tanggal kadaluarsanya ya.


Setelah kenyang kamipun kembali ke Bunga Jabe, teriknya matahari membuat kami malas berada diluar, padahal harusnya kami mulai explore pantai sekitar Kemujan, tapi apalah daya. Kami baru keluar lagi sekitar jam dua sore, target kami yaitu ke Bukit Love dan Pantai 'Cupcup' ehehehe. Bukit lovenya bagus, tapi sayang ramai sekali, jadilah kami hanya mampir sebentar lalu bergegas ke pantai.

Karena kami buru-buru jadilah kami berhenti di pantai pertama yang kami lihat, namanya pantai Alano.Ternyata pantai Alano ini sepi sekali, seperti pantai tak berpenghuni, hanya ada belasan kapal nelayan yang parkir di pantai, dan satu dua bapak-bapak, tidak ada warung maupun pedang asongan. Bahkan hanya terdapat kotak untuk kebersihan saja.


Tapi pantai disini cantik sekali, putih bersih, sepi, sayangnya ini adalah pantai sunrise, kami buru-buru kembali ke Kemujan dan menuju ke pantai merican tapi sayangnya kami terlalu sore, dan perjalanan menuju merican sangat gelap dan masih belum dijamah manusia.

Jadi kami putuskan untuk pulang saja, dan memesan makan di ibu. Makan malam kali ini kami memesan dua porsi saja karena ikan kemarin besar sekali, mubazir. Dan kami seperti pesta! Luar biasa servicenya bunga jabe, makanan enak suasana nyaman. Ah cinta sekali!


Setelah puas makan kami sempat duduk duduk dulu menikmati angin malam di depan weapella cafenya Bunga Jabe. Selamat istirahat! besok kita akan tour laut.