Rabu, 12 Oktober 2022
Senin, 03 Oktober 2022
Weekend Trip - Bandung
Hari ini 3 orang dari kami janjian di Juanda, dan ketemu 2 lainnya di Gambir. Kami naik kereta Argo Parahyangan jam 6.40 dan sampe di Bandung jam 9.20. Sampai Bandung kita langsung janjian sama abang-abang persewaan motor.
Kami ketemuan di bank BNI depan stasiun. Setelah itu kami langsung cari makan, dan ini lucu banget. Kami makan di tempat lotek yang jual bakmoy (atau nasi dengan lauk daging babi) ngakak banget. Makanan akusih nggak mengandung daging yang mencurigakan secara aku makannya nasi lengko, yang jelas nasi lengko isinya cuma nasi tahu tempe sayuran yang dikasih sambel kacang, jadi aman, sedangkan temenku yang lain makan tahu petis, rujak ulek (ngakak banget emang, masa sarapan pake rujak ulek) dan 2 lainnya makan nasi rames yang ada potongan rendangnya (kita gatau itu nasi rendang daging apa) dan aku sendiri nggak ngehabisin makananya karena keburu nggak nasfu takut emang ini tempat nggak halal, secara dia jual masakan non halal, herannya kita nggak ditegur atau dikasih tau soal ini. Padahal kita bakalan dengan senang hati untuk keluar dari resto dan cari yang lain kalau memang petugasnya kasih info bahwa mereka jual makanan non halal. secara kita bertiga pakai kerudung. Tapi ya kan kita nggak tahu, kita curiga pas makanan udah pada mau abis dan searching. (Aku udah tanya sebelumnya ke temenku yg kasih saran apakah ini hahal, dan jawabannya iya)
Setelah brunch (ciah) karena terlalu siang untuk disebut sarapan. Kita ke hotel untuk check-in, dan untungnya hotel kita bisa check-in lebih awal. Jadi kami check-in, istirahat, bersih-bersih nunggu dzuhur dan siap-siap ke Cikole.
Mungkin karena kita salah pilih jalur, kita bener-bener kecapekan dan udah gapunya tenaga untuk keluar lagi. karena jujur rasanya udah lelah banget. Salahnya adalah kita memang gak pernah berhenti dulu pas arah ke Cikole dan turun, jadi badan kita capek berkepanjangan hahaha.
Kamis, 01 September 2022
Goes To Dieng Culture Festival
Hai!
Akhirnya aku nulis blog tentang traveling lagi setelah sekian lama.
Kali ini aku bakalan ceritain gimana implusifnya aku dan temenku ke Dieng Culture Festival alias DCF. Kami udah ngincer tiket DCF jauh-jauh hari sebelum penjualan tiketnya dibuka, ketika tiketnya dibuka, kami cuma 3 orang sedangkan minimal pemesanan 4 orang, bahkan homestay mereka kadang ada 8 orang jadi ada banyak banget tiket yang dibeli 4 org eh homestaynya dapetnya 8, dan harganya luar biasa.
Selain bundling tiket dan homestay yang mahal, tiketnya cepet banget habis, pas kita masih mikir-mikir dan cari temen tau-tau tiketnya sold out hehehe.
Akhirnya kita urungkan niat kita ke DCF dan cari rute baru. Sampai suatu ketika lagi iseng-iseng buka Instagram, ternyata tiket individu dijual. Tiket + merchandisenya aja masih available (bahkan tiket ini masih ada sampai H+1) padahal kalau lihat di twitter, tiket itu awalnya habis beberapa jam setelah di pasarkan) mungkin juga karena harga tiket tahun ini 2 kali lipat dari tahun 2019 plus pajak 11%.
Harga tiket individu sendiri sekitar 823.500 (sudah sama ppn), Apa aja yang di dapat dalam bundling individu, ada ID-Card, T-shirt, Kain jarik, caping gunung, lampion, masker, kupluk, kopi ABC sachet, yang semuanya ada di dalam goodie bag, kita juga dapat Free Pass Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.
Perjalanan pertama dimulai dari stasiun Pasar Senen, kereta kita jam 22.30 dan sampai di Purwokerto jam 04.14. Jujur karena ini pertama kalinya ke DCF, dan kita persiapannya kurang matang karena dadakan bgt, akupun ngerasa nggak terlalu nyiapin fisikku. Bawaan kita banyak banget, mana bawa jaketku yg tebel nyaris 2/3 tas dan jadinya penuh banget, aku juga bawa 1 totebag jajanan yang gedeee beud.
Setelah sampai di stasiun Purwokerto, kita sempetin buat istirahat di mushola di belakang stasiun sembari nunggu subuh. Btw, stasiun purwokerto cukup rapih dan nyaman. Musholanya kecil di belakang tapi kamar mandinya luas dan bersih. Cuma emang ada ya orang-orang yang kalau pipis tuh padahal cewek gitu, becek semua kayak habis nyuci motor. heu.
Setelah solat kita langsung keluar stasiun, awalnya kita diarahin untuk keluar dari pintu selatan biar bisa naik angkot (kata mas-mas cleaning service), tapi setelah kita tanya pintu keluarnya dimana, bapak satpamnya nyarain kita untuk naik trans jateng aja, jadi kita keluar ke pintu utama dan jalan kaki sekitar 10-15 menit ke arah halte Trans Jateng. Bus dan haltenya sama kayak yang di Semarang dan nunggu busnya lama banget, jujur. Tapi perjalanan terakhirnya memang Trans Jateng ini ke terminal, jadi cukup sekali naik aja, btw, ketika kalian menuju halte Trans Jateng jangan lupa beli jajanan pagi atau sarapan di sepanjang jalan kesana, karena sepanjang jalan ada banyak yang jualan dari mulai nasi sampai jajanan pasar.
![]() |
| Pemandangan di depan halte trans jateng |
Pas kita turun di terminal Purwokerto kita diarahin ke belakang sama bapak-bapak calo atau porter gatau identitas si bapak ini apa, untuk naik bus, waktu itu kita naik bus Teguh. Busnya ngingetin sama bus yang aku naikin dari Baluran ke Banyuwangi. Busnya kecil dan jenis lama. Busnya ngetem nggak lama dan sepi, tapi pas udah keluar dari stasiun beh, banyak banget ibu-ibu bapa-bapa yang mau kepasar, anak sekolah, mba-mas mau kerja, karena ya emang masih hari kamis juga. Jadi busnya penuh banget, jarang sepi. Akhirnya setelah diputer dua kali di Banjarnegara, kita sampai di Wonosobo juga sekitar jam 9 pagi.
Finalleeeeeh kita sampai juga dalam keadaan cuaca mendung dan dingin bangeeet. Agak shock juga sama cuacanya tapi ajaibnyaaaaaa aku gapernah pilek disini, kageeeet bgt. Hidungku sensitif banget, di Jakarta hampir tiap hari pilek, apakah aku cocok dengan udara disini? tapi yang jelas aku gak cocok sama hawa dingginya sih. Gak terbiasa mungkin. Cuacanya ngaco banget, kadang dingin banget kadang panas banget. Untungnya selama 4 hari disini cuma pegel doang karena kebanyakan jalan bukan karena sakit. Huhuhu Alhamdulillah.
![]() |
| Pagi di wonosobo |
Sampe
di rumah temennya temenku kita kenalan dan bersih-bersih, lalu sarapan, btw
masakan Ibunya enak dan fresh, there is nothing can beat fresh food alias sayur
yang baru dipetik langsung dari kebun dan dimasak adalah yang terbaiks.
Kita nunggu sampai siang karena nggak dapat-dapat juga balasan dari tukang sewa motor, niatnya mau naik angkot aja dari depan gang rumah buat cari sewaan motor, tapi Ibu nyaranin untuk bawa motor NMAX milik dia, kupikir temenku yang bakalan bawa, melihat aku pendek (sadar diri) udah pasti nggak nyampe itu motor, mana berat. Ternyata aku yang nyetir, jujur degdegan banget ternyata aku bisa juga hahaha
Sore ini kita jalan-jalan sebentar setelah dipinjemin motor sekalian juga mau cari motor buat besok kita ke Dieng biar nggak ngerepotin gituloh. Motor sewaan pertama ternyata kosong, motor sewaan kedua ternyata nggak available dan dua-duanya bakalan ngabarin pas malem kalau ada. Setelah muter-muter kita nyempetin jalan-jalan ke landmark Wonosobo dan juga ke alun-alun Wonosobo. Di alun-alun kita makan mie ayam dan jalan-jalan muterin alun-alun sambil foto-foto aja.
Magrib kita udah di rumah lagi buat beres-beres apa aja yang mau dibawa ke Dieng besok. See u tommoroooow!
Sabtu, 19 Maret 2022
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer
A little book with a big heart!
From the New York Times bestselling author of A Man Called Ove, My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry, and Britt-Marie Was Here comes an exquisitely moving portrait of an elderly man’s struggle to hold on to his most precious memories, and his family’s efforts to care for him even as they must find a way to let go.
With all the same charm of his bestselling full-length novels, here Fredrik Backman once again reveals his unrivaled understanding of human nature and deep compassion for people in difficult circumstances. This is a tiny gem with a message you’ll treasure for a lifetime.
Review :
I think I know why I attached to Backman books, Backman always had 'Grandma' and 'Grandpa' as the main character, which I don't have, now.
From the 5th book that I already read from Backman, there is no single book that I don't like. All the stories makes me sad and warm at the same time.
This novella is about an abuelo who suffer from dementia, he tried to recall his memories, the memories he want to keep and afraid to forget, because he keep losing his memories day by day.
Not only the Grandpa side, it's also show how hard and sad to be the family, they see the Grandpa suffering while the only thing they could do is acompany him. And telling the stories that Grandpa told them, so he maybe could remember.
When i read the other Backman book, they sometimes giving the happy and cheerfull moment so we could breath while trying to finish the book, but this is the second time after "The deal of the life time" i need to brace myself to finish this book, it's was gloomy and dark, yet beautiful.
Maybe this is why we don't want to grow up, because its scared us much. Imagine someday we will forget everything and suffer trying to recall and hold onto the memories.
Sabtu, 17 Oktober 2020
A Beam of Light
Minggu, 12 Juli 2020
Book Review : Britt-Marie Was Here
Title : Britt-Marrie Was Here
Year : 2016
Publisher : Sceptee
Author : Fredrick Backman
Blurb :
At first sight, Britt-Marie is a fussy, passive-aggressive busybody. But hidden inside her is a woman who has bigger dreams and a warmer heart than anyone around her imagines. When she finds herself alone for the first time in decades, she realizes she's spent her life making choices for the sake of other people.
Is lt too late for her to change?
And In a small town of big-hearted misfits, can Britt-Marie find a place where she truly belongs?
Review :
I already read two of Backman books, first is My Grandmother Ask Me to Tell You she's Sorry, and the second book was A Man Called Ove.
Backman never disapoimyed me with his work. Even his IG caption always fun to read and both Indonesian and English translations (because the original book is in Swedish) is able to make me fall in love even though it has been translated.
Reading Britt-Marie is like drinking fresh afternoon tea (sugar free), bitter and warm. And that's my cup of tea.
In one chapter I can laugh at how eccentric Brittmarie's is, but in another chapter i want to crying with Britt-Marie. This rollercoaster feeling you had when you read Backman books.
There is a lot we can learn from Britt-Marie and the people at Borg. We can't judge people only from their appearance, we need to listen to other, because maybe he's right and we are wrong. We need to be more open to everything ahead us.
Britt-Marie teach us, that small things matter.
Here's one of the quotes from Britt-Marie,
"As people do when they don't have the ability to distinguish between 'a place to live' and 'a home'. It's actually thoughfulness that makes the difference."
I recommend this book to people who are on their way to finding a 'home' to be back, finding someone who waits behind their bedroom window and stays awake for you. Finding their self, the true self, someone who want to try to be more open to the new world.
For people who believe that little things matter and can change big things, and the fact that there is someone remembers you.
I hope you could find a warmth like how pizzeria welcome their guest. Have a nice Monday tomorrow! 💕
Minggu, 06 Oktober 2019
Book Review : A Man Called Ove
Judul : A Man Called Ove
Penulis : Fredrik Backman
Penerjemah : Ingrid Nimpoeno
Penerbit : Noura Books
Terbit : 2016
Sinopsis :
Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.
Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.
Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai keujujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.
Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.
Lalu... masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?
____________
Review :
Sebenarnya sudah ngewishlist ini dari lama...lama.... banget. Tapi, entah kenapa setiap beli novel baru, novel ini gapernah kebeli, sampai suatu hari aku baca sampelnya di kindle dan ngakak lah aku.
Akhirnya dapat novel ini dari Ka Jiha, tapi malah baca My Grandmother Ask Me to Tell You She's Sorry duluan yang aku beli dari Ka Jiha juga 😂
MGAMTTYSS ini Neneknya Grumpy juga kayak Kakek Ove dan sudah kuselesaikan kemarin, full reviewnya di postingan sebelum ini ya.
Semoga aja nanti Britt-Marie yang lebih grumpy di terjemahkan juga.
Ove ini Dark Cokelat kaliya. Dia bitter juga sweet, dan tentu aku suka sekali dark cokelat, mungkin inilah kenapa Ove tipeku banget.
Kalau ditanya suami idaman, aku gak akan ragu untuk bilang Ove. He's the most caring person i've ever read (re:novel) in my whole life.
Hubungan Ove dan Sonja ini kalau diibatarkan, Ove ini Hujan dan Sonja adalah pelangi. Ove bukan tipikal cowok novel romance novel, dia bukan kaka kelas ganteng badboy, orang kaya raya, CEO muda nan tampan, ataupun sahabat baik hati. He's none of 'em.
Ove hanya laki-laki pekerja keras dan jujur. Dia ini kaya apa ya, buah nangka? Yang kalau dilihat dari luar kasar aneh tapi pas dibuka buahnya manis banget. He's such a person.
Aku muji-muji Ove banget ya, memang dia ini sesweet itu walau dengan caranya yang grumpy banget. Dia ngeselin tapi penuh perhatian.
Dia ini tipe yang gak banyak bicara tapi lebih banyak aksinya. Dia nggak suka basa-basi, dia melakukan hal-hal yang menurut dia perlu dia lakukan.
Seperti MGAMTTYSS novel ini juga bisa memuat moodmu naik turun, kadang kamu akan terpingkal-pingkal, tapi setelahnya kesedihan menyergapmu tanpa tedeng aling.
Aku sepertinya jatuh cinta dengan tulisan Backman, 2 bukunya berhasil mengaduk-aduk perasaanku.
Walau aku lama banget nyelesainnya, aku gak nyesel, karena aku menikmati banget terutama bab-bab terakhir. Yang nyaris membuatku nangis saking nggak relanya.
Karena Ove begitu hangat dan manis dengan segala keterusteranganya.
Aku juga berharap aku bisa baca lebih banyak interaksi Ove dengan anaknya Parvaneh, karena apa? He'll be the sweeteeeeest granpa ever!!
Aku gapunya banyak hal yang mau kuceritakan soal bukunya, aku cuma punya segudang pujian untuk Ove.
Semoga kita akan menemukan Ove versi kita yang akan mencintai kita setulus Ove mencintai Sonja. Dan bisa menjadi Sonja yang mau menerima segala kekurangan Ove.💕
Senin, 24 Juni 2019
[Traveling] Karimun Jawa - Bunga Jabe
Semoga teman-teman setelah melihat ini dan baca ulasan kegiatan saya di Karimun Jawa jadi tertarik untuk menginap di Bunga Jabe, jangan lupa pesan makan juga, masakan ibu-ibunya enak banget!!.
Bunga Jabe Beach adalah salah satu penginapan di Pulau Kemujan, Karimun Jawa. Terletak di sebelah timur Karimun Jawa tepat di dekat bandara. Karena posisinya yang paling ujung itulah juga yang membuat Bunga Jabe menjadi salah satu tempat melihat sunrise terbaik di Kemujan. Saya sih setuju banget, sunrise disini kalau golden hour wah kelar deh. Dan saya suka Bunga Jabe yang tenang dan jauh dari kebisingan.
Have a great day everyone!











Mas-mas dan ibunya ramah banget, makanannya enak semua, apalagi jajanan tiap pagi, aduh nagih banget.
Kelebihan : Pantai pribadi, Makanan enak, tempat nyaman, host yang ramah, harga relatif terjangkau, bisa lihat sunrise dan plaknton kalau neruntung, bisa langsung berenang di depan penginapan.
Rate : 50-450rb/malam
No.tlp : +62 853-2648-0858 (Mas Opik)
[Traveling] Karimun Jawa - Akomodasi
Post kali ini saya akan memberikan sedikit gambaran tentang pengeluaran dan informasi seputar jadwal kegiatan selama di Karimun Jawa. Kalian bisa bagi dan kalikan sendiri sesuai kebutuhan, dan sharing bareng teman.
21.01-02.59 - Istirahat kalau bisa
Travel : 150,000/pp
Kapal Siginjai : 190,000/pp
Sewa Motor : 75,000/hari
Penginapan : 200,000/hari
Tour laut : 200,000/hari
Makan : 200,000
Bensin : 10,000/liter
Harga travel biasanya 45rb-50rb tapi karena masih masa lebaran harga travel biasanya naik.
Rate : 50-450rb/malam
No.tlp : +62 853-2648-0858 (Mas Opik)
Rate 10-200rb/malam
No.tlp : +62 852-9004-3274 (Pak Solikul)
Rate : 75,000
No.tlp : +62 822-4301-9533 (Mas Pluwek Morgan)
Rate : 200,000
No.tlp : +62 853-2804-8520 (Mas Gugun)
Rate : 45-75rb
No tlp poll Semarang - +62 812-2660-9009
No.tlp poll Jepara - +62 813-9262-8118
Semoga bermanfaat dan selamat berlibur ke Karimun Jawa!



















