Rabu, 13 Maret 2024

[Traveling] Vietnam Bagian 1 : Memulai Perjalanan

 Hello! Xin chào!

 

PERSIAPAN!
Akhirnya aku punya keinginan untuk nulis perjalanan kali ini. Sejujurnya ini adalah perjalanan implusif (kayaknya aku memang sering implusif). Aku beli tiket ke Vietnam di Oktober, dan tiket balik di November 2023.


Waktu itu harga tiket ke Vietnam sedang promo di Scoot, jadilah aku mengajak beberapa temanku, pada akhirnya yang jadi hanya Dewi dan Rina. Kami berangkat dari kota berbeda, kita akan ketemu (transit) di Singapore sebelum ke Ho Chi Min. Persiapan kami cukup matang, itulah kenapa kayaknya kami cukup leluasa kesana-kesini karena sudah banyak searching sebelumnya. Beberapa tips persiapan kalau traveling bareng :


Pertama, buat tabungan untuk uang kas, yang dari tabungan itu kalian bisa bayar hotel, transport, tiket wisata dan makan bareng. Karena, kadang nominalnya ganjil, kalau kalian punya uang bersama itu akan lebih mudah untuk di bagi.  Kami menabung sekitar Rp.1.650.000 + vnd 162,000. Sebagain besarnya kami tukar ke VND. (Masih sisa Rp.40,000 + vnd 10,000).


Kedua, tuker VND di Indonesia, money changer yang menurut aku worth it di Jakarta :

1. Smartdeals (dia ada websitenya jadi kalian bisa lihat berapa nilai tukar mata uangnya) di web nilai tukarnya 1 Rp = vnd 0,67 tapi dia hanya buka weekdays, aku kerja jadi gabisa tukar ke sana.


2. Captain Money Changer (nilai tukarnya oke banget) nilai tukar 1 Rp = 0,68 vnd, bisa chat/telpon dulu untuk dela rate baru kesana bayar, tunai ya.


3. Jenius : ratenya lebih oke dari BCA, tapi aku gabisa narik uang gatau kenapa pinku salah, dan kena charge 5000/gagal narik, meh~ (rate sekitar vnd 0,65-0,66)


4. Bawa kartu BCA (krn BCA adalah penyelamat, dia bisa dipakai di atm, narik uang, juga aku pakai pas naik bus hop on hop off. Tapi ratenyaaa tinggi 0,72


5. Bawa uang dollar, kalian bisa tukar dollar kalian disana 1$ = vnd 24,000an


Pokoknya kalau kalian dapat nilai tukar lebih dari vnd 0,7 mending kalian tarik atm aja disana. Rina pakai atm BCA untuk ambil uang, dan ada fee sebesar 20,000. Sedangkan aku ada fee 5000 saat pakai untuk bayar hop on hop off bus. Dan ratenya fluktiatif banget. Kalian juga bisa bawa cc atau kartu debit yang ada logo visa/mastercardnya ya. 


Ketiga, ini bisa kalian tanyain atau bisa kalian kenali saat kalian menentukan itinerary saat bareng temen yang kalian ajak, cari temen jalan itu sama kayak cari kopi, cocok-cocokan, pastikan kalian adalah orang yang adjustable, soalnya kalau kalian gabisa adjust sama temen jalan kalian, kelar. Bukannya jalan-jalan yang ada malah bete seharian. Tanya dia lebih suka traveling yg luxury atau on budget, kudu fix sama schedule atau bisa flexible, lebih suka naik grab atau sewa motor, harus sarapan atau bisa brunch aja, bangun pagi atau tidur pagi, lebih suka tidur di hotel atau hostel, belum lagi soal makan terutama yang muslim, kalau belanja buat oleh-oleh mau spend time lebih banyak atau beli seadanya aja gapapa. 


Pokoknya make sure temen jalan kamu sealiran, atau pastikan kamu dan dia orangnya bisa adjusting. Kalau kamu gabisa ngubah temen jalanmu, ubah mindest kamu biar kalian tetep bisa menikmati the rest of the trip. Terus jangan suka banding-bandingin temen jalanmu sama temenmu yang lain, bandinginnya after trip aja dan bukan di depan orangnya. Atau better kamu pergi sama temenmu yang lain kalau emang kepribadian kalian nggak klik. Okay?

 


Day 1

Ini adalah perjalanan pertamaku keluar negri, degdegan tentu. Tapi, bismillah. Perjalan kali ini dimulai hari Jumat, 08/03, aku berangkat dari Jakarta menuju Singapore jam 11.20 sedangkan Rina dan Dewi seharusnya jam 10, tapi pesawat mereka cancel, dan diganti ke SQ (nggak tahu ini sebuah kesialan atau malah keberuntungan, aku pikir yang terakhir). Jadi mereka akan berangkat dari Denpasar jam 12, mepet sekali, karena penerbangan lanjutan kami jam 3 sore dari Singapore ke Ho Chi Min.Setelah tragedi lari-lari di terminal 1, mereka sampai di gate (gate paling ujung pula), dengan tepat waktu. Fyuuuuh.


Hari itu Singapore diguyur hujan yang cukup deras, pesawat antri di runway, delay lah 1 jam stuck di runway, saat hujan reda satu persatu pesawat berangkat, tapi awan dilangit memang cukup tebal, beberapa kali kami mengalami turbulensi. Tapi we finally arrive at Tân Sơn Nhất International Airport safelyyyyy! Kaget banget, ketika memasuki pintu keluar, imigrasi PENUH! Benar-benar penuh banget-banget, padahal ada belasan loket imigrasi berjejer tapi antrian tetap mengular panjang.



Setelah 15 menit mengantri di imigrasi, kalian nggak akan ditanya apapun, cuma tunjukan paspor saja dan buka topi kalian (jika pakai) lalu paspor kalian akan di cap dan tadaaaa, keluar, menghirup udara Saigon! Saat kalian keluar kalian akan disambut dengan para warga yang menunggu keluarganya, mirip artis korea, banyak sekali warga yang menunggu di depan terminal kedatangan, kalian hanya harus berbelok ke kanan sampai ujung, dan tunggulah beberapa menit maka bus kalian akan datang, sabar!.

Jujur ini karena aku terlalu nyantai, aku lupa keluar dari bandara harus tunggu  di mana awkwkw, ada tanda bus stop ke kanan, tapi pas celingak-celinguk nggak ada juga tuh halte bus atau tanda pemberhentian bus gitu, akhirnya kita lihat-lihat grab, saat lagi lihat grab ada bus 152 datang, aku bilang, ayo kita naik itu, padahal aku gatau naik bus itu turun di mana, aku cuma inget bus itu bisa bawa kita ke kota hahaha.


Kami waktu itu beruntung nggak lama menemukan bus 152 dan naik! Saat naik kondektur bus akan berkeliling menarik ongkos ke penumpang, dan tentu dia tidak bisa berbahasa inggris, dia akan menunjukan sejumlah uang, uang itulah yang harus kita bayar ke dia. Kami ber-3 dengan 2 koper, jadilah kami membayar vnd 25,000, vnd 5,000 untuk perorang dan vnd 5,000 lainnya untuk koper, backpack tidak dihitung.

Tujuan kita adalah ke District 1 mau makan di apartment café dan duduk duduk di city hall, tapi yang penting kita makan deh, karena udah sekitar jam setengah 8 juga, dan ternyata apartment café itu beda jalur sama bus ini, terus ada turis juga dari Indonesia 2 mas-mas yang tadinya mau makan di food court tapi malah bablas ke Ben Thanh market, jadilah kita turun juga, karena kita agak familiar dengan Ben Thanh Market.

Oia, ada 3 pilihan bus yang bisa bawa keluar dari airport untuk ke Tengah kota, ini pilihannya :

1.      Bus 152 - VND 5.000/person/luggage

2.      Bus 109 - VND 12.000/person

3.      Shuttle Bus 49 - VND 40.000/person


Buat temen-temen muslim, turun di Ben Thanh Matket atau Chợ Bến Thành ini oke banget, karena kalian bisa dengan mudah nemuin makanan halal, jadi setelah turun dari halte, kalian nyebrang terus ke kiri, jalan aja sampe ketemu alun-alun, nah di kanan itu udah keliatan gapura/pintu masuk pasarnya, ada tulisan gede Chợ Bến Thành. Sampe depan Chợ Bến Thành, ke sisi kiri lalu belok kanan, sampe ketemu tembok tulisan Cửa Tây nyebrang, nanti ketemu jalanan isinyaa makanan halal, mostly resto Malaysia. Tinggal capcipcup mau makan dimana. Kita makan Phở di Halal Amin Phở Muslim. Kuahnya seger banget, Cuma kayaknya daun-daunya terlalu wangi untuk lidahku, Cuma kalau gapake daun, ini enaaaak bgt. Akhirnya bisa makan Phở di negaranya langsung.


Setelah makan Pho kami sempat keliling dari ujung ke ujung jalan untuk sekadar cuci mata, btw ini tips juga, JANGAN BELI OLEH-OLEH DI BEN THAN MARKET kalau kalian gabisa nawar!


Di luar harga untuk gantungan kunci vnd 30,000 di Ben Thanh Market gantungan kunci yang sama dihargai vnd 200,000, di ruko fixed price (ruko paling depan ben than market) harganya aku lupa sekitar vnd 40,000 atau vnd 45,000.


Jadi lebih baik beli souvenirnya di jalanan sini aja, lebih murah. Karena saya juga gabisa nawar sih hehehe tapi tetep aja, 200,000 men.


Setelah selesai makan dan window shopping kita ke agen bus Trọng Minh di district 5. Kita akan pindah kota, yaitu ke Đà Lạt District 1 nih hidup banget, malem-malem juga masih rame, pas ke district 5 sekitar jam 10-an udah pada mulai sepi, resto disini rata-rata tutup paling lama jam 10. Ternyata di sepanjang jalan ini banyak banget tempat agen bus, dari Futa, Thành Bưởi, Trọng Minh dll, aku rekomendasiin 2 agen ini, Thành Bưởi dan Trọng Minh, karena busnya oke banget. (aku searching soal bus ini 2 bulan dan tanya sana-sini).



1. Thành Bưởi – Vnd 440,000 : fasilitasnya oke, tapi dia nggak bisa di book oline, harus dating langsung ke agenya, bisa milih seat langsung (tergantung availabenya).
2.
Trọng Minh – Vnd 420,000 : bisa di book di Redbus, dan Red Bus Vietnam itu super helpful. Mereka pakai English dan kita bisa tanya kira-kira di mana turun naik busnya, plus bisa ganti juga turun naik bus kalau salah book pas di redbusnya (krn slamat di redbus pakai Vietnamese). Oia sebenernya bus ini bisa di isi 2 org dalam 1 seat ya, tapi aku gatau gimana caranya, lagian enakan sendiri sih, kalau di rupiahin sekitar Rp280.000 perjalanannya akan memakan waktu 7-8 jam.


Oia, ke Đà Lạt ini bisa juga pakai pesawat, tapi kita kelamaan beli tiketnya jadi harganya mahal, padahal gajauh beda harga pesawat sama bus, TAPI, nggak enaknya naik pesawat, dari bandara ke tengah kotanya JAUH banget. Biaya grabnya lumayan juga. Jadi ngeluarin lebih banyak uang. Tapi tentu kalian jadi lebih cepet sampe dan bisa ngabisinin waktu lebih banyak disini, kalian bisa pilih-pilih masuk ke budget kalian nggak naik pesawat+ongkos ke kotanya, kebetulan kalau aku hotelnya gajauh dari pemberhentian bus, bener-bener di depan banget. Gaperlu lagi naik grab untuk ke hotel. Lumayan nginep di bus, irit biaya hotel ehehehe.

Malam ini kita tidur di bus, sampai jumpa jumpa di Đà Laaaaạt everyoneee!

Senin, 17 Oktober 2022

Anak-anak yang di kecualikan

Kenapa harus aku?
Kenapa bukan dia?
Kenapa harus aku?
Kenapa bukan mereka?
Kenapa harus aku?
Kenapa hanya aku yang harus bersikap dewasa?
Kenapa aku harus mengalah?
Kenapa aku harus diam-diam menangis di bawah bantal?
Kenapa harus aku yang merelakan?
Kenapa harus aku yang menahan diri?
Kenapa harus aku?

Aku memeluk diriku sendiri, karena mereka sibuk saling memeluk satu sama lain, sedangkan aku dikecualikan.

Katanya aku kuat dan hebat, aku bisa menahannya sendirian.

Mereka lupa aku juga manusia dan lemah.

Mereka lupa aku juga ingin dipeluk dan diperhatikan.

Mereka lupa aku juga ingin hal yang sama.

Aku ingin jadi yang paling disayang, 
Aku ingin jadi yang paling dibutuhkan,
Aku ingin jadi yang lemah,
Aku ingin jadi yang paling didahulukan,
Aku ingin jadi spesial,
Aku ingin dicintai,
Aku ingin merasakan yang mereka juga rasakan.

Kenapa hanya aku yg di kecualikan?
Kenapa harus aku yang bisa sendirian.

Rabu, 12 Oktober 2022

Di Kepala.


Kesedihan kesedihan yang tidak ada habisnya terus-terusan menengokku.

Setiap kali aku bisa bahagia, dia terus mengintip malu-malu, masuk secara tidak kentara lalu menyusup dan tinggal lama.

Kesedihan yang tak bisa aku singkirkan karena aku membiarkannya begitu saja.

Padahal kalau bisa ku usir dengan sedikit keberanian, kesedihan itu pasti sirna.

Sayangnya aku tak punya.

Adu duduk ditengah ruangan sembari menatapi kesedihan satu persatu.

Seolah-olah kalau kutatap semuanya akan pergi.

Padahal dia utuh disana, dan aku lengah ada kesedihan lainnya datang dari pintu yang tak tekira, lalu aku terkejut karenanya.

Aku ingin menggangam tangan seseorang, barangkali, dengan kehangatan dari jari tangannya aku punya keberanian untuk mengusir kesedihan itu.

Sirna.


Senin, 03 Oktober 2022

Weekend Trip - Bandung

 Hi!,

Tepat sebulan setelah pergi ke Dieng, hari ini aku dan temen-temen kantorku bakalan ke Bandung naik Kereta. Sejujurnya ini kesalahkanu juga sih, aku lupa banget kalau temen kuliahku nikah di tanggal yang sama, Jadi yang harusnya aku nginep di rumah temenku, aku harus bagi waktu tanggal 1 ke Bandung tanggal 2 pagi aku sudah harus balik Jakarta lagi. 

Hari ini 3 orang dari kami janjian di Juanda, dan ketemu 2 lainnya di Gambir. Kami naik kereta Argo Parahyangan jam 6.40 dan sampe di Bandung jam 9.20. Sampai Bandung kita langsung janjian sama abang-abang persewaan motor.

Kami ketemuan di bank BNI depan stasiun. Setelah itu kami langsung cari makan, dan ini lucu banget. Kami makan di tempat lotek yang jual bakmoy (atau nasi dengan lauk daging babi) ngakak banget. Makanan akusih nggak mengandung daging yang mencurigakan secara aku makannya nasi lengko, yang jelas nasi lengko isinya cuma nasi tahu tempe sayuran yang dikasih sambel kacang, jadi aman, sedangkan temenku yang lain makan tahu petis, rujak ulek (ngakak banget emang, masa sarapan pake rujak ulek) dan 2 lainnya makan nasi rames yang ada potongan rendangnya (kita gatau itu nasi rendang daging apa) dan aku sendiri nggak ngehabisin makananya karena keburu nggak nasfu takut emang ini tempat nggak halal, secara dia jual masakan non halal, herannya kita nggak ditegur atau dikasih tau soal ini. Padahal kita bakalan dengan senang hati untuk keluar dari resto dan cari yang lain kalau memang petugasnya kasih info bahwa mereka jual makanan non halal. secara kita bertiga pakai kerudung. Tapi ya kan kita nggak tahu, kita curiga pas makanan udah pada mau abis dan searching. (Aku udah tanya sebelumnya ke temenku yg kasih saran apakah ini hahal, dan jawabannya iya)

Setelah brunch (ciah) karena terlalu siang untuk disebut sarapan. Kita ke hotel untuk check-in, dan untungnya hotel kita bisa check-in lebih awal. Jadi kami check-in, istirahat, bersih-bersih nunggu dzuhur dan siap-siap ke Cikole. 

Di maps jarak cikole dari hotel sekitar 1 jam. Kita sampai Cikole Orchid Forest sekitar jam 2.30 tapi sejujurnya kita bisa lebih cepat lagi (mungkin) kalau aja kita gak lewatin jalan alternatif yang jalannya waduh, mencekam untuk orang yang belum pernah bawa motor naik turun gunung, nggak lagideh, cukup sekali seumur hidup lewat situ hahaha. Aku yang gapernah naik-turun gunung bahkan ke puncak di Bogor bikin aku gapunya pengalaman untuk nyetir dengan Medan super menegangkan yang kanannya jurang.

Oia, Orchid Cikole ini tutup jam 7 malem ya teman-teman, akusih saranin kalian kesini pagi sekalian atau sore sekalian, kalian bisa duduk duduk ngadem dan piknik di berbagai spot di Orchid Cikole dan kalian juga bisa pelan-pelan nikmatinnya kalau kesana pagi, bisa explore semua tempat di Ochid Cikole biar puas. kalian juga bisa nonton band yang lagi manggung di theaternya. seru banget!

Setelah dari Orchid Cikole kita balik jam set.6 alhamdulillahnya jalan kali ini normal hahaha. setelah kita melewati setiabudi aku bilang untuk minggir dulu mau coba cari tempat buat makan, tapi malah pada parkir di nasi padang, padahal di depan gak jauh dari situ ada aneka sambel atau lalapan gitu lupa namanya hahaha. Asli ngakak banget perjalanan ini.

Setelah memesan nasi goreng padang untuk kita semua, kita ngelanjutin perjalanan dan pergi ke Kartika Sari yang sudah tutup eheheh. setelah beli Kartika Sari kita akhirnya balik ke hotel untuk istirahat dan bersih-bersih sebelum keluar lagi.

Mungkin karena kita salah pilih jalur, kita bener-bener kecapekan dan udah gapunya tenaga untuk keluar lagi. karena jujur rasanya udah lelah banget. Salahnya adalah kita memang gak pernah berhenti dulu pas arah ke Cikole dan turun, jadi badan kita capek berkepanjangan hahaha.

Setelah isi tenaga kami keluar jam set.11 malam untuk ke alun-alun bandung. Luar biasa ramenyaaaaaaa, padahal udah malem, tapi emang kalau di kota dan tempat wisata jam segini masih rame banget. Mungkin juga baru pada keluar.

Aku pesan sekoteng, foto-foto di terowongan (?) Underpas bandung yang terkenal itu lalu pulang. Beres-beres karena aku harus pulang jam 5 pagi untuk ngejar kereta ke Jakarta demi menghadiri resepsi temenku.

See u lagi di kesempatan lain, bandung.♡


Kamis, 01 September 2022

Goes To Dieng Culture Festival

 

Hai! 

Akhirnya aku nulis blog tentang traveling lagi setelah sekian lama.

        Kali ini aku bakalan ceritain gimana implusifnya aku dan temenku ke Dieng Culture Festival alias DCF. Kami udah ngincer tiket DCF jauh-jauh hari sebelum penjualan tiketnya dibuka, ketika tiketnya dibuka, kami cuma 3 orang sedangkan minimal pemesanan 4 orang, bahkan homestay mereka kadang ada 8 orang jadi ada banyak banget tiket yang dibeli 4 org eh homestaynya dapetnya 8, dan harganya luar biasa.

         Selain bundling tiket dan homestay yang mahal, tiketnya cepet banget habis, pas kita masih mikir-mikir dan cari temen tau-tau tiketnya sold out hehehe.

           Akhirnya kita urungkan niat kita ke DCF dan cari rute baru. Sampai suatu ketika lagi iseng-iseng buka Instagram, ternyata tiket individu dijual. Tiket + merchandisenya aja masih available (bahkan tiket ini masih ada sampai H+1) padahal kalau lihat di twitter, tiket itu awalnya habis beberapa jam setelah di pasarkan) mungkin juga karena harga tiket tahun ini 2 kali lipat dari tahun 2019 plus pajak 11%. 

      Harga tiket individu sendiri sekitar 823.500 (sudah sama ppn), Apa aja yang di dapat dalam bundling individu, ada ID-Card, T-shirt, Kain jarik, caping gununglampion, masker, kupluk, kopi ABC sachet, yang semuanya ada di dalam goodie bag, kita juga dapat Free Pass Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.

 \

     Perjalanan pertama dimulai dari stasiun Pasar Senen, kereta kita jam 22.30 dan sampai di Purwokerto jam 04.14. Jujur karena ini pertama kalinya ke DCF, dan kita persiapannya kurang matang karena dadakan bgt, akupun ngerasa nggak terlalu nyiapin fisikku. Bawaan kita banyak banget, mana bawa jaketku yg tebel nyaris 2/3 tas dan jadinya penuh banget, aku juga bawa 1 totebag jajanan yang gedeee beud.

 

Setelah sampai di stasiun Purwokerto, kita sempetin buat istirahat di mushola di belakang stasiun sembari nunggu subuh. Btw, stasiun purwokerto cukup rapih dan nyaman. Musholanya kecil di belakang tapi kamar mandinya luas dan bersih. Cuma emang ada ya orang-orang yang kalau pipis tuh padahal cewek gitu, becek semua kayak habis nyuci motor. heu.

    Setelah solat kita langsung keluar stasiun, awalnya kita diarahin untuk keluar dari pintu selatan biar bisa naik angkot (kata mas-mas cleaning service), tapi setelah kita tanya pintu keluarnya dimana, bapak satpamnya nyarain kita untuk naik trans jateng aja, jadi kita keluar ke pintu utama dan jalan kaki sekitar 10-15 menit ke arah halte Trans Jateng. Bus dan haltenya sama kayak yang di Semarang dan nunggu busnya lama banget, jujur. Tapi perjalanan terakhirnya memang Trans Jateng ini ke terminal, jadi cukup sekali naik aja, btw, ketika kalian menuju halte Trans Jateng jangan lupa beli jajanan pagi atau sarapan di sepanjang jalan kesana, karena sepanjang jalan ada banyak yang jualan dari mulai nasi sampai jajanan pasar.

Pemandangan di depan halte trans jateng

         Pas kita turun di terminal Purwokerto kita diarahin ke belakang sama bapak-bapak calo atau porter gatau identitas si bapak ini apa, untuk naik bus, waktu itu kita naik bus Teguh. Busnya ngingetin sama bus yang aku naikin dari Baluran ke Banyuwangi. Busnya kecil dan jenis lama. Busnya ngetem nggak lama dan sepi, tapi pas udah keluar dari stasiun beh, banyak banget ibu-ibu bapa-bapa yang mau kepasar, anak sekolah, mba-mas mau kerja, karena ya emang masih hari kamis juga. Jadi busnya penuh banget, jarang sepi. Akhirnya setelah diputer dua kali di Banjarnegara, kita sampai di Wonosobo juga sekitar jam 9 pagi.


        Finalleeeeeh kita sampai juga dalam keadaan cuaca mendung dan dingin bangeeet. Agak shock juga sama cuacanya tapi ajaibnyaaaaaa aku gapernah pilek disini, kageeeet bgt. Hidungku sensitif banget, di Jakarta hampir tiap hari pilek, apakah aku cocok dengan udara disini? tapi yang jelas aku gak cocok sama hawa dingginya sih. Gak terbiasa mungkin. Cuacanya ngaco banget, kadang dingin banget kadang panas banget. Untungnya selama 4 hari disini cuma pegel doang karena kebanyakan jalan bukan karena sakit. Huhuhu Alhamdulillah.

Pagi di wonosobo

        Sampe di rumah temennya temenku kita kenalan dan bersih-bersih, lalu sarapan, btw masakan Ibunya enak dan fresh, there is nothing can beat fresh food alias sayur yang baru dipetik langsung dari kebun dan dimasak adalah yang terbaiks.

        Kita nunggu sampai siang karena nggak dapat-dapat juga balasan dari tukang sewa motor, niatnya mau naik angkot aja dari depan gang rumah buat cari sewaan motor, tapi Ibu nyaranin untuk bawa motor NMAX milik dia, kupikir temenku yang bakalan bawa, melihat aku pendek (sadar diri) udah pasti nggak nyampe itu motor, mana berat. Ternyata aku yang nyetir, jujur degdegan banget ternyata aku bisa juga hahaha


        Sore ini kita jalan-jalan sebentar setelah dipinjemin motor sekalian juga mau cari motor buat besok kita ke Dieng biar nggak ngerepotin gituloh. Motor sewaan pertama ternyata kosong, motor sewaan kedua ternyata nggak available dan dua-duanya bakalan ngabarin pas malem kalau ada. Setelah muter-muter kita nyempetin jalan-jalan ke landmark Wonosobo dan juga ke alun-alun Wonosobo. Di alun-alun kita makan mie ayam dan jalan-jalan muterin alun-alun sambil foto-foto aja.



Magrib kita udah di rumah lagi buat beres-beres apa aja yang mau dibawa ke Dieng besok. See u tommoroooow!

Sabtu, 19 Maret 2022

And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Tittle        : And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer (A Novella)
Author      : Fredrick Backman
Published : 2015
Publisher  : Atria Book
Page          : 70 - Scribd

Book descriptions:

A little book with a big heart!

From the New York Times bestselling author of A Man Called Ove, My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry, and Britt-Marie Was Here comes an exquisitely moving portrait of an elderly man’s struggle to hold on to his most precious memories, and his family’s efforts to care for him even as they must find a way to let go.

With all the same charm of his bestselling full-length novels, here Fredrik Backman once again reveals his unrivaled understanding of human nature and deep compassion for people in difficult circumstances. This is a tiny gem with a message you’ll treasure for a lifetime.


Review :

I think I know why I attached to Backman books, Backman always had 'Grandma' and 'Grandpa' as the main character, which I don't have, now.

From the 5th book that I already read from Backman, there is no single book that I don't like. All the stories makes me sad and warm at the same time.

This novella is about an abuelo who suffer from dementia, he tried to recall his memories, the memories he want to keep and afraid to forget, because he keep losing his memories day by day.

Not only the Grandpa side, it's also show how hard and sad to be the family, they see the Grandpa suffering while the only thing they could do is acompany him. And telling the stories that Grandpa told them, so he maybe could remember.

When i read the other Backman book, they sometimes giving the happy and cheerfull moment so we could breath while trying to finish the book, but this is the second time after "The deal of the life time" i need to brace myself to finish this book, it's was gloomy and dark, yet beautiful.

Maybe this is why we don't want to grow up, because its scared us much. Imagine someday we will forget everything and suffer trying to recall and hold onto the memories.

I love all the characters, i love what the love they had for each other. I hope that we have someone to hold our hands, so that we don't feel lonely going through this someday.

Have a great weekend! 🌻
This entry was posted in

Sabtu, 17 Oktober 2020

A Beam of Light


Sepertinya ada yang salah...
Itu kalimat yang ku rasa paling menggambarkan keadaan waktu itu, ada sesuatu yang salah dalam diriku, yang menggerogotiku setiap hari.

Setiap hari aku melakukan hal yang sama berkali-kali, bangun, kerja, pulang, tidur, siklus itu kualami setahun belakangan tapi seperti ada lubang yang mengaga, yang kosong, yang terus-terusan minta diisi.

Aku berkali-kali menangis tanpa tahu sebabnya, aku berkali-kali bilang pada diriku bahwa aku harus bekerja terus menerus atau perasaan kosong ini akan semakin parah, itulah kenapa kerja adalah cutting off dari overthinkingku. Agar aku lupa perasaan kosongku.

Tapi namanya lubang, kalau kamu ada didekatnya dan tidak segera menutupnya, kamu jatuh juga.

Hari itu aku ingat sekali, aku bangun pagi seperti biasa tapi yang kulakukan hanya duduk diam, menangis. Aku tidak tahu apa yang salah, tapi aku merasa terlalu lelah, aku ingin berhenti sebentar.

Tapi dunia di luar kamar kosku tetap berputar, kerjaan di kantorku tetap menumpuk, abang bakso tetap berjualan, burung tetap terbang, hanya aku yang berhenti.

Akhirnya dengan segala kekalutan, aku berangkat kerja dan menemukan dirku melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak perlu.

Aku merasa aku tidak berguna, aku merasa aku begitu bodoh.

Aku tahu ada yang salah dan harus segera kuperbaiki, aku harus bersih-bersih pikiranku.

Akhirnya setelah seminggu merasa hampa, aku memutuskan untuk mereview semua kegiataanku selama setahun, membaca semua notes keseharianku selama setahun belakangan, berusaha menemukan apa yang salah sama diriku.

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tahun depan (2020) aku harus punya tujuan, karena selama ini aku seperti daun di sungai, ikut mengalir tapi tidak tahu kemana arahnya. Hanya ikut arus.

Aku tidak pernah punya tujuan pasti, harapan, dan mimpi yang ingin kucapai.

Setelah aku hanya tiduran berjam-jam sembari memikirkan masa depanku, mau dibawa kemana hidupku, aku berusaha untuk menulis kembali, menulis satu-satu hal yang ingin aku capai, tujuan-tujuanku kedepan, keinginan-keinginan yang tertunda, mimpi-mimpi yang belum kurealisasikan.

Aku urutkan satu-persatu, apa yang ingin kucapai dalam sebulan, setengah tahun, setahun, tiga tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun kedepan. Bahkan long life goalsku.

Aku mulai punya semangat lagi, aku mulai punya sesuatu yang ini kugapai, sesuatu yang ingin kuperjuangkan, hal-hal yang ingin kulakukan, bukan cuma kerja, kerja, kerja.

Aku menemukan diriku sendiri disudut ruangan bangkit dan berusaha memulai lagi. Aku merasa aku lebih hidup dalam beberapa tahun belakangan ini.

Aku bersyukur aku bisa menemukan seberkas cahaya di kegelapan.

Aku berharap jika ada yang membaca catatan ini dan merasakan hal yang sama, take your time, tidak apa-apa untuk berhenti sebentar lalu kembali menata hidup.

Tidak apa-apa kita tertinggal, nanti kita bisa berjalan lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa bingung, nanti coba lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa sendiri, nanti kita bisa bercerita lagi,

Tidak apa-apa merasa tidak berguna, nanti kita berusaha lagi.

 It's okay not to be okay, hang on there!!! You are worth it. 💕

This entry was posted in

Minggu, 12 Juli 2020

Book Review : Britt-Marie Was Here

 



Title : Britt-Marrie Was Here

Year : 2016

Publisher : Sceptee

Author : Fredrick Backman


Blurb :

At first sight, Britt-Marie is a fussy, passive-aggressive busybody. But hidden inside her is a woman who has bigger dreams and a warmer heart than anyone around her imagines. When she finds herself alone for the first time in decades, she realizes she's spent her life making choices for the sake of other people.

Is lt too late for her to change?

And In a small town of big-hearted misfits, can Britt-Marie find a place where she truly belongs?


Review :

I already read two of Backman books, first is My Grandmother Ask Me to Tell You she's Sorry, and the second book was A Man Called Ove.

Backman never disapoimyed me with his work. Even his IG caption always fun to read and both Indonesian and English translations (because the original book is in Swedish) is able to make me fall in love even though it has been translated.

Reading Britt-Marie is like drinking fresh afternoon tea (sugar free), bitter and warm. And that's my cup of tea.

In one chapter I can laugh at how eccentric Brittmarie's is, but in another chapter i want to crying with Britt-Marie. This rollercoaster feeling you had when you read Backman books.

There is a lot we can learn from Britt-Marie and the people at Borg. We can't judge people only from their appearance, we need to listen to other, because maybe he's right and we are wrong. We need to be more open to everything ahead us.

Britt-Marie teach us, that small things matter.

Here's one of the quotes from Britt-Marie,

"As people do when they don't have the ability to distinguish between 'a place to live' and 'a home'.  It's actually thoughfulness that makes the difference."

I recommend this book to people who are on their way to finding a 'home' to be back, finding someone who waits behind their bedroom window and stays awake for you. Finding their self, the true self, someone who want to try to be more open to the new world. 

For people who believe that little things matter and can change big things, and the fact that there is someone remembers you.

I hope you could find a warmth like how pizzeria welcome their guest. Have a nice Monday tomorrow!  💕



This entry was posted in

Minggu, 06 Oktober 2019

Book Review : A Man Called Ove

 

Judul : A Man Called Ove

Penulis : Fredrik Backman

Penerjemah : Ingrid Nimpoeno

Penerbit : Noura Books

Terbit : 2016


Sinopsis :

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai keujujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup.  Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu... masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?


____________

Review : 

Sebenarnya sudah ngewishlist ini dari lama...lama.... banget. Tapi, entah kenapa setiap beli novel baru, novel ini gapernah kebeli, sampai suatu hari aku baca sampelnya di kindle dan ngakak lah aku.

Akhirnya dapat novel ini dari Ka Jiha, tapi malah baca My Grandmother Ask Me to Tell You She's Sorry duluan yang aku beli dari Ka Jiha juga 😂

MGAMTTYSS ini Neneknya Grumpy juga kayak Kakek Ove dan sudah kuselesaikan kemarin, full reviewnya di postingan sebelum ini ya.

Semoga aja nanti Britt-Marie yang lebih grumpy di terjemahkan juga.


Ove ini Dark Cokelat kaliya. Dia bitter juga sweet, dan tentu aku suka sekali dark cokelat, mungkin inilah kenapa Ove tipeku banget.

Kalau ditanya suami idaman, aku gak akan ragu untuk bilang Ove. He's the most caring person i've ever read (re:novel) in my whole life.

Hubungan Ove dan Sonja ini kalau diibatarkan, Ove ini Hujan dan Sonja adalah pelangi. Ove bukan tipikal cowok novel romance novel, dia bukan kaka kelas ganteng badboy, orang kaya raya, CEO muda nan tampan, ataupun sahabat baik hati. He's none of 'em.

Ove hanya laki-laki pekerja keras dan jujur. Dia ini kaya apa ya, buah nangka? Yang kalau dilihat dari luar kasar aneh tapi pas dibuka buahnya manis banget. He's such a person.

Aku muji-muji Ove banget ya, memang dia ini sesweet itu walau dengan caranya yang grumpy banget. Dia ngeselin tapi penuh perhatian.

Dia ini tipe yang gak banyak bicara tapi lebih banyak aksinya. Dia nggak suka basa-basi, dia melakukan hal-hal yang menurut dia perlu dia lakukan.

Seperti MGAMTTYSS novel ini juga bisa memuat moodmu naik turun, kadang kamu akan terpingkal-pingkal, tapi setelahnya kesedihan menyergapmu tanpa tedeng aling.

Aku sepertinya jatuh cinta dengan tulisan Backman, 2 bukunya berhasil mengaduk-aduk perasaanku.


Walau aku lama banget nyelesainnya, aku gak nyesel, karena aku menikmati banget terutama bab-bab terakhir. Yang nyaris membuatku nangis saking nggak relanya.


Karena Ove begitu hangat dan manis dengan segala keterusteranganya.


Aku juga berharap aku bisa baca lebih banyak interaksi Ove dengan anaknya Parvaneh, karena apa? He'll be the sweeteeeeest granpa ever!!

Aku gapunya banyak hal yang mau kuceritakan soal bukunya, aku cuma punya segudang pujian untuk Ove.

Semoga kita akan menemukan Ove versi kita yang akan mencintai kita setulus Ove mencintai Sonja. Dan bisa menjadi Sonja yang mau menerima segala kekurangan Ove.💕



This entry was posted in